Bonus Berbasis Kinerja Hotel: Menghubungkan Business Result dengan Compensation
Hotel dapat mencatat pertumbuhan revenue 15% dan tetap memiliki masalah profitability. Occupancy naik, tetapi ADR turun terlalu dalam. Room revenue tumbuh, tetapi OTA commission dan acquisition cost meningkat. Guest satisfaction membaik, tetapi payroll membengkak. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan revenue belum cukup menjadi alasan untuk membayar bonus secara otomatis. Inilah alasan bonus berbasis kinerja hotel perlu dirancang berdasarkan hasil bisnis yang lebih luas. Bonus seharusnya menjawab satu pertanyaan: Apakah hotel benar-benar menghasilkan performance yang layak dibagikan kepada karyawan? Jika jawabannya iya, bonus dapat menjadi alat untuk menyelaraskan kepentingan employee, management, dan owner. Jika formulanya salah, bonus justru dapat membayar perilaku yang merusak margin.