Karyawan underperform biasanya pertama kali terlihat dari angka: productivity turun, complaint meningkat, error bertambah, target tidak tercapai, atau pekerjaan membutuhkan pengawasan lebih sering.
Namun angka tersebut hanya menunjukkan gejala.
Seorang Room Attendant yang gagal mencapai target kamar belum tentu tidak produktif. Bisa ada masalah room assignment, linen supply, kondisi kamar, workload, atau training.
Sales yang tidak mencapai revenue target belum tentu tidak melakukan pekerjaan. Bisa saja account production turun karena market demand atau pricing strategy.
Karena itu respons pertama management seharusnya bukan:
“Bagaimana memberi sanksi?”
Melainkan:
“Apa data performance-nya, apa standard-nya, dan apa penyebab gap tersebut?”
Perbedaan diagnosis ini menentukan apakah hotel membutuhkan training, coaching, perubahan workflow, Performance Improvement Plan, atau tindakan disipliner.
Underperform Harus Didefinisikan dengan Data
Istilah “underperform” terlalu subjektif jika tidak memiliki benchmark.
Management perlu membandingkan:
Expected Performance
vs
Actual Performance
Contoh:
Housekeeping target:
22 rooms/shift
Actual:
17 rooms/shift
Gap:
-5 rooms
Tetapi angka tersebut belum cukup untuk mengambil keputusan.
Management harus melihat:
- occupancy;
- room type;
- room condition;
- assignment;
- staffing;
- equipment;
- attendance;
- quality score.
Jika 17 kamar menghasilkan inspection score 99%, diagnosisnya berbeda dengan 17 kamar yang juga menghasilkan banyak re-cleaning.
Underperformance harus didefinisikan berdasarkan standard + evidence + context.
1. Pastikan Standard Sudah Jelas
Karyawan tidak dapat dinilai underperform jika expectation tidak pernah dijelaskan.
Management harus memastikan:
- job description tersedia;
- KPI jelas;
- target terukur;
- SOP tersedia;
- deadline diketahui;
- quality standard dipahami;
- reporting mechanism jelas.
Misalnya:
“Harus bekerja lebih cepat.”
terlalu subjektif.
Lebih baik:
“Target room productivity adalah 22 kamar per shift dengan inspection score minimal 95%.”
Standard seperti ini dapat diukur.
2. Cari Root Cause Sebelum Menyalahkan Orang
Framework sederhana:
Performance Gap
↓
Root Cause Analysis
↓
Corrective Action
Penyebab dapat berasal dari:
People
- skill;
- knowledge;
- motivation;
- discipline.
Process
- workflow;
- SOP;
- handover;
- approval.
System
- PMS;
- POS;
- HRIS;
- communication tools.
Resources
- manpower;
- equipment;
- inventory.
Management
- target;
- supervision;
- leadership;
- scheduling.
Jika seluruh staff mengalami masalah yang sama, kemungkinan besar management harus memeriksa system atau process.
3. Bedakan Skill Gap dan Will Gap
Ini salah satu diagnosis paling penting.
Skill Gap
Karyawan memiliki willingness tetapi belum mampu memenuhi standard.
Contoh:
Front Office Agent belum mampu melakukan upselling karena belum menguasai product knowledge.
Respons:
Training + Coaching + Practice
Will Gap
Karyawan memiliki skill tetapi tidak menunjukkan effort atau compliance yang diperlukan.
Contoh:
Staff sudah memahami SOP check-in tetapi terus melewati prosedur meskipun sudah diberikan feedback.
Respons:
Accountability + Monitoring + Corrective Action
Kesalahan umum adalah memberikan training kepada semua karyawan underperform.
Training tidak menyelesaikan masalah willingness.
4. Periksa Apakah Target Memang Realistis
Management juga harus melakukan audit terhadap target.
Contoh:
Target Housekeeping:
24 rooms/shift
Tetapi historical productivity hotel:
19–21 rooms/shift
Dan room mix semakin banyak suite.
Target tersebut perlu dipertanyakan.
Demikian juga Sales.
Target revenue:
Rp1 miliar/bulan
Market demand aktual:
Rp700 juta
Jika seluruh sales team mengalami shortfall yang sama, management perlu memeriksa:
- market;
- pricing;
- demand;
- account base;
- product positioning.
Jangan mengubah market problem menjadi employee problem.
5. Gunakan Data, Bukan Label
Hindari kalimat:
“Dia memang tidak perform.”
Gunakan:
“Dalam tiga bulan terakhir, target conversion 25%, actual 16%, dengan volume lead yang relatif sama.”
Perbedaan tersebut sangat penting.
Label:
Underperformer
adalah kesimpulan.
Data:
Target → Actual → Gap → Pattern
adalah evidence.
Management harus memulai dari evidence sebelum menentukan tindakan.
6. Lakukan Performance Conversation
Setelah gap teridentifikasi, supervisor perlu melakukan pembicaraan langsung.
Struktur sederhana:
Observation
Apa yang terjadi?
Evidence
Data apa yang mendukung?
Expectation
Standard yang seharusnya berapa?
Employee Perspective
Apa hambatan yang dirasakan?
Action
Apa yang akan diperbaiki?
Timeline
Kapan hasilnya dievaluasi?
Contoh:
“Target billing accuracy department adalah 98%. Dalam empat minggu terakhir, accuracy kamu 93%. Kita perlu memahami penyebabnya. Dari sisi kamu, apa yang membuat error tersebut terjadi?”
Percakapan dimulai dari data, bukan tuduhan.
7. Jangan Hanya Memberikan Teguran
Teguran menjelaskan bahwa performance tidak sesuai.
Tetapi belum tentu menjelaskan bagaimana memperbaikinya.
Contoh:
Masalah:
Front Office Agent sering salah melakukan room posting.
Teguran:
“Jangan ulangi kesalahan ini.”
Coaching:
- review 10 transaksi terakhir;
- identifikasi pola error;
- ulangi SOP;
- lakukan supervised posting;
- review kembali setelah 20 transaksi.
Coaching menghasilkan behavior yang dapat diamati, bukan sekadar peringatan.
8. Buat Performance Improvement Plan
Jika performance gap signifikan atau berulang, hotel dapat menggunakan Performance Improvement Plan (PIP).
PIP sebaiknya memuat:
Performance Gap
Apa yang tidak memenuhi standard?
Expected Standard
Berapa target yang harus dicapai?
Action Plan
Apa yang harus dilakukan?
Support
Training atau coaching apa yang diberikan?
Measurement
Bagaimana progress diukur?
Timeline
Berapa lama improvement diberikan?
Consequence
Apa tindakan berikutnya jika standard tetap tidak tercapai?
PIP bukan sekadar surat peringatan.
PIP adalah structured performance intervention.
9. Contoh PIP Housekeeping
Performance Gap
Room productivity:
17 rooms/shift
Expected
22 rooms/shift
Quality Requirement
Inspection score ≥95%
Improvement Action
- refresh room cleaning SOP;
- supervisor shadowing;
- review room assignment;
- daily productivity tracking.
Timeline
30 hari.
Checkpoint
Hari ke-7, 14, 21, 30.
Expected Outcome
Minimal 21 rooms/shift dengan inspection score ≥95%.
Framework tersebut lebih objektif dibanding:
“Perbaiki performance dalam satu bulan.”
10. Jangan Mengorbankan Quality demi Mengejar KPI
Ini penting untuk hotel.
Misalnya staff Housekeeping:
Sebelum coaching:
18 rooms
Setelah PIP:
23 rooms
Terlihat berhasil.
Namun:
Re-cleaning ↑
Guest complaint ↑
Inspection score ↓
Artinya performance improvement sebenarnya tidak terjadi.
KPI harus memiliki counter-metric.
Contoh:
Productivity + Quality
Revenue + Margin
Sales + Collection
Speed + Accuracy
Dengan demikian karyawan tidak didorong mengejar angka secara buta.
11. Monitor Progress Secara Berkala
PIP yang hanya dievaluasi di hari terakhir tidak efektif.
Gunakan checkpoint.
Contoh 30 hari:
Week 1
Baseline & coaching
↓
Week 2
Progress review
↓
Week 3
Correction
↓
Week 4
Final assessment
Management dapat melihat apakah performance:
Improving
Gap semakin kecil.
Stagnant
Tidak ada perubahan berarti.
Deteriorating
Gap semakin besar.
Tindakan berikutnya bergantung pada pattern tersebut.
12. Dokumentasikan Semua Proses
Dokumentasi penting untuk:
- konsistensi management;
- HR record;
- performance tracking;
- employee development;
- fairness;
- tindakan lanjutan.
Dokumentasi dapat mencakup:
- KPI;
- attendance;
- complaint;
- coaching notes;
- training;
- PIP;
- review meeting;
- employee response;
- outcome.
Jangan mengandalkan ingatan supervisor.
13. Jika Masalah Berasal dari Manager, Perbaiki Manager-nya
Ada kondisi ketika banyak employee dalam satu team underperform.
Misalnya:
- turnover tinggi;
- complaint meningkat;
- KPI rendah;
- absenteeism tinggi.
Jika lima atau sepuluh orang memiliki masalah serupa, management perlu mengevaluasi:
Department Head / Supervisor
Pertanyaan:
- Apakah target realistis?
- Apakah briefing efektif?
- Apakah coaching berjalan?
- Apakah scheduling tepat?
- Apakah SOP dipahami?
- Apakah workload seimbang?
Underperformance massal sering menjadi indikator management problem, bukan kumpulan individual problem.
14. Jangan Menggunakan Comparison yang Tidak Relevan
Jangan mengatakan:
“Staff A bisa mencapai 25 kamar, kenapa kamu hanya 18?”
Kondisi kerja mungkin berbeda.
Periksa:
- room mix;
- shift;
- workload;
- tenure;
- experience;
- assignment;
- available resources.
Benchmark terbaik biasanya:
Standard pekerjaan + historical performance + relevant peer comparison.
Bukan sekadar membandingkan dua individu.
15. Berikan Support yang Proporsional
Tidak semua underperform membutuhkan intervensi yang sama.
Minor Gap
Contoh:
KPI 96%, target 100%.
→ Feedback + coaching.
Moderate Gap
KPI 85% selama beberapa periode.
→ Coaching + structured improvement plan.
Serious / Repeated Gap
Performance jauh di bawah standard setelah support diberikan.
→ Formal PIP + documented review.
Persistent Failure
Tidak ada improvement setelah intervention yang reasonable.
→ Management dapat mempertimbangkan tindakan employment sesuai policy perusahaan dan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.
HR perlu memastikan setiap tindakan memiliki dasar yang konsisten dan terdokumentasi.
16. Jangan Terlalu Cepat Memberhentikan Karyawan
Turnover memiliki biaya.
Ketika employee keluar, hotel dapat kehilangan:
- operational knowledge;
- training investment;
- productivity;
- team stability.
Replacement juga membutuhkan:
- recruitment;
- onboarding;
- training;
- supervision.
Namun mempertahankan employee yang terus merusak service, productivity, atau team culture juga memiliki cost.
Karena itu keputusan harus melihat:
Cost of Retention
vs
Cost of Replacement
dan terutama:
Probability of Improvement
17. Gunakan Matrix untuk Keputusan
Hotel dapat menggunakan dua variabel:
Performance
dan
Improvement Potential
High Performance / High Potential
→ Develop / Promote
Low Performance / High Potential
→ Coach / Train
High Performance / Low Potential
→ Retain / Specialist
Low Performance / Low Potential
→ Formal improvement / Further action
Matrix ini membantu management menghindari keputusan berdasarkan satu periode performance.
18. Underperform Tidak Selalu Berarti Employee Buruk
Ada perbedaan antara:
Low Performance
dan
Low Capability
Seseorang dapat memiliki capability tinggi tetapi performance rendah karena:
- burnout;
- poor management;
- workload;
- unclear target;
- system issue;
- role mismatch.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki willingness tinggi tetapi capability belum cukup.
Management harus membedakan:
Can’t
vs
Won’t
vs
Can’t Because of System
Tiga kondisi tersebut membutuhkan tindakan berbeda.
19. Gunakan Data untuk Melihat Pattern
Jangan mengambil keputusan berdasarkan satu kejadian.
Contoh:
Satu complaint:
Investigate.
Lima complaint dengan pattern sama:
Identify recurring issue.
Performance rendah satu minggu:
Monitor.
Performance rendah tiga bulan:
Performance pattern.
Pattern lebih kuat daripada isolated incident.
20. Hubungkan Underperformance dengan Business Impact
Management perlu memahami dampaknya.
Contoh Front Office:
Billing error ↑
↓
Correction ↑
↓
Guest frustration ↑
↓
Complaint ↑
↓
Review score ↓
↓
Potential repeat business ↓
Atau Housekeeping:
Productivity ↓
↓
Labor hours ↑
↓
Cost per occupied room ↑
↓
GOP margin ↓
Underperformance menjadi lebih mudah diprioritaskan ketika business impact-nya terlihat.
Contoh Penanganan Berdasarkan Department
Front Office
Problem: Billing error tinggi.
Check:
- SOP;
- PMS;
- training;
- transaction volume.
Action:
- transaction review;
- refresher training;
- supervised posting;
- accuracy monitoring.
Housekeeping
Problem: Productivity rendah.
Check:
- room assignment;
- room mix;
- linen;
- equipment;
- attendance.
Action:
- workflow review;
- productivity coaching;
- equipment support;
- daily monitoring.
Sales
Problem: Revenue target tidak tercapai.
Check:
- pipeline;
- conversion;
- account production;
- market demand;
- rate;
- lead volume.
Action:
- pipeline review;
- account strategy;
- sales coaching;
- weekly forecast.
F&B
Problem: Sales rendah.
Check:
- covers;
- average check;
- menu mix;
- upselling;
- outlet traffic.
Action:
- upselling coaching;
- menu knowledge;
- outlet strategy;
- performance tracking.
Framework Penanganan Underperform Hotel
Framework praktis:
1. Define
Apa standard-nya?
↓
2. Measure
Berapa actual performance?
↓
3. Diagnose
Apa root cause?
↓
4. Discuss
Apa perspektif employee?
↓
5. Coach
Intervensi apa yang diperlukan?
↓
6. Improve
Tetapkan action plan.
↓
7. Monitor
Track progress.
↓
8. Evaluate
Apakah performance membaik?
↓
9. Decide
Develop, retain, PIP, atau tindakan berikutnya.
Framework ini menghindari dua ekstrem:
Terlalu cepat menghukum
atau
Terlalu lama mentoleransi performance buruk.
Contoh Decision Tree
Performance rendah?
Ya
↓
Standard sudah jelas?
Tidak
→ Clarify expectation.
Ya
↓
Ada skill gap?
Ya
→ Training / Coaching.
Tidak
↓
Ada system / workload issue?
Ya
→ Fix process / resource.
Tidak
↓
Willingness / discipline issue?
Ya
→ Accountability / formal management.
Tidak
↓
Performance masih rendah?
Ya
→ PIP / formal improvement process.
Tidak
→ Return to normal monitoring.
Dashboard Underperformance Hotel
HR dan Department Head dapat membangun dashboard:
Employee Performance
- KPI achievement;
- productivity;
- quality;
- attendance;
- complaint;
- training;
- coaching;
- PIP status.
Dashboard tersebut memungkinkan management melihat:
Siapa yang underperform?
Tetapi yang lebih penting:
Mengapa?
Dan:
Apakah performance sedang membaik?
Kesalahan yang Sering Terjadi
1. Langsung Menyalahkan Karyawan
Tanpa root cause analysis.
2. Tidak Ada Standard yang Jelas
Employee tidak tahu expectation.
3. Hanya Menggunakan Satu KPI
Konteks performance hilang.
4. Memberikan Training untuk Semua Masalah
Training tidak menyelesaikan will gap.
5. Tidak Mendokumentasikan Coaching
History performance hilang.
6. Tidak Memberikan Timeline
Tidak ada definisi improvement.
7. PIP Hanya Menjadi Surat Peringatan
Tidak ada support dan measurement.
8. Menunda Tindakan Terlalu Lama
Performance buruk menjadi normalisasi.
Penutup
Menangani karyawan underperform di hotel bukan sekadar memilih antara menegur atau memberhentikan.
Management harus terlebih dahulu mengetahui:
Apa standard-nya?
Apa actual performance-nya?
Seberapa besar gap-nya?
Apa penyebabnya?
Apakah employee mampu memperbaikinya?
Apakah organisasi sudah memberikan support yang reasonable?
Dari sana baru dapat ditentukan apakah solusi yang tepat adalah:
Coaching → Training → Process Improvement → PIP → Formal Action
Prinsip yang paling penting adalah membedakan:
Skill Gap
dengan
Will Gap
dan keduanya dengan:
System Gap.
Jika masalah berasal dari skill, training dapat menyelesaikannya.
Jika masalah berasal dari willingness atau discipline, accountability lebih relevan.
Jika masalah berasal dari system, menyalahkan employee hanya akan mengulang masalah yang sama.
Dalam industri hotel, keputusan tersebut memiliki dampak langsung terhadap service quality, labor productivity, guest satisfaction, dan profitability.
Karena itu objective management bukan sekadar mengurangi jumlah underperformer.
Objective-nya adalah memastikan setiap performance gap memiliki diagnosis yang benar dan tindakan yang sesuai.
Measure → Diagnose → Intervene → Monitor → Decide.
Itulah fondasi performance management yang lebih sehat di hotel.