Cara Membuat Forecast Occupancy Hotel
Forecast occupancy yang baik bukan berusaha menebak masa depan. Tujuannya adalah mengurangi ketidakpastian sehingga keputusan bisnis dibuat berdasarkan probabilitas yang lebih akurat.
Tips, strategi, dan insight seputar hotel management, teknologi, dan industri perhotelan Indonesia
Menampilkan 9 dari 112 artikel
Forecast occupancy yang baik bukan berusaha menebak masa depan. Tujuannya adalah mengurangi ketidakpastian sehingga keputusan bisnis dibuat berdasarkan probabilitas yang lebih akurat.
Dalam revenue meeting, salah satu keputusan yang paling sering memicu perdebatan adalah waktu menaikkan tarif kamar. Keputusan tersebut terlihat sederhana, namun dampaknya dapat memengaruhi pendapatan hotel dalam skala yang signifikan.
Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan, bahkan keluhan dari tamu. Dua orang menginap di tipe kamar yang identik, pada tanggal yang sama, tetapi membayar tarif yang berbeda. Dari sudut pandang tamu, kondisi tersebut terlihat tidak adil. Dari sudut pandang bisnis hotel, inilah salah satu strategi revenue management yang paling efektif ketika diterapkan dengan benar.
Banyak owner hotel masih mengukur keberhasilan bisnis berdasarkan tingkat okupansi. Selama kamar terisi penuh, hotel dianggap telah mencapai performa yang baik. Namun, laporan keuangan sering menunjukkan realitas yang berbeda. Hotel dengan okupansi 85% mampu menghasilkan profit yang lebih tinggi dibanding hotel lain dengan okupansi 95%.
Menentukan harga kamar sering dianggap sebagai aktivitas administratif yang dilakukan ketika awal tahun atau menjelang musim liburan. Banyak hotel menetapkan tarif berdasarkan biaya operasional, tarif kompetitor, atau sekadar mengikuti tren pasar. Pendekatan tersebut terlihat sederhana, tetapi sering menghasilkan keputusan yang mengurangi potensi pendapatan.
Masih banyak hotel menetapkan tarif kamar berdasarkan kalender tahunan atau memperbarui harga hanya ketika mendekati musim liburan. Pendekatan tersebut pernah efektif ketika pola permintaan relatif stabil. Namun perilaku tamu, kanal distribusi digital, dan dinamika pasar telah mengubah cara harga seharusnya dikelola.
Perubahan perilaku wisatawan dalam beberapa tahun terakhir mengubah pola reservasi hotel secara signifikan. Jika sebelumnya sebagian besar tamu memesan kamar beberapa minggu sebelum kedatangan, kini banyak reservasi terjadi hanya beberapa hari, bahkan beberapa jam sebelum check-in.
Banyak owner hotel memandang high season sebagai periode ketika bisnis akan berjalan dengan sendirinya. Reservasi meningkat, okupansi mendekati penuh, dan permintaan pasar melampaui ketersediaan kamar.
Setiap hotel memiliki siklus bisnis. Ada periode ketika tingkat hunian meningkat karena musim liburan, agenda pemerintahan, konferensi, atau aktivitas bisnis. Di sisi lain, terdapat masa ketika permintaan pasar menurun secara signifikan. Bagi banyak hotel, periode ini dikenal sebagai low season.