Banyak owner hotel mengetahui berapa tingkat hunian hotel mereka setiap hari. Sebagian juga rutin memantau ADR dan RevPAR. Namun ketika ditanya berapa Gross Operating Profit (GOP) bulan lalu, jawabannya sering kali tidak tersedia dengan cepat.
Padahal bagi investor, asset manager, dan operator hotel profesional, GOP merupakan salah satu indikator yang paling sering digunakan untuk menilai kesehatan bisnis hotel.
Occupancy menunjukkan seberapa banyak kamar yang terjual. Revenue menunjukkan berapa banyak uang yang masuk. GOP menunjukkan berapa banyak keuntungan operasional yang benar-benar berhasil dipertahankan setelah biaya operasional dikeluarkan.
Perbedaannya sangat signifikan.
Dua hotel dapat memiliki revenue yang sama, tetapi menghasilkan GOP yang sangat berbeda karena struktur biaya yang berbeda.
Karena itulah banyak investor hotel lebih tertarik melihat GOP dibanding occupancy.
Apa Itu GOP Hotel?
GOP atau Gross Operating Profit adalah laba operasional hotel sebelum biaya non-operasional seperti bunga pinjaman, pajak, depresiasi, dan amortisasi diperhitungkan.
Secara sederhana, GOP menunjukkan seberapa efisien hotel menghasilkan keuntungan dari aktivitas operasional sehari-hari.
Komponen pendapatan yang biasanya masuk ke perhitungan GOP meliputi:
- Revenue kamar
- Revenue food & beverage
- Revenue meeting room
- Revenue wedding
- Revenue spa
- Revenue laundry
- Revenue ancillary lainnya
Sementara biaya operasional yang diperhitungkan antara lain:
- Gaji dan tunjangan karyawan
- Utilities (listrik, air, gas)
- Housekeeping supplies
- Marketing
- Komisi OTA
- Maintenance
- Operasional departemen
Rumus GOP Hotel
Rumus dasar GOP:
GOP = Total Revenue – Total Operating Expenses
Contoh sederhana:
Total Revenue Hotel = Rp2.000.000.000
Total Operating Expenses = Rp1.300.000.000
Maka:
GOP = Rp2.000.000.000 – Rp1.300.000.000
GOP = Rp700.000.000
Artinya hotel menghasilkan laba operasional sebesar Rp700 juta sebelum memperhitungkan biaya bunga, pajak, dan depresiasi.
Mengapa GOP Lebih Penting dari Revenue?
Dalam banyak rapat manajemen hotel, fokus sering kali terlalu besar pada pertumbuhan revenue.
Masalahnya, revenue yang meningkat belum tentu menghasilkan profit yang lebih besar.
Misalnya:
Hotel A
Revenue: Rp3 miliar
Operating Expenses: Rp2,5 miliar
GOP: Rp500 juta
Hotel B
Revenue: Rp2,5 miliar
Operating Expenses: Rp1,7 miliar
GOP: Rp800 juta
Meski revenue Hotel A lebih tinggi, Hotel B menghasilkan laba operasional yang jauh lebih baik.
Dari perspektif investor, Hotel B merupakan bisnis yang lebih sehat.
GOP Margin: Angka yang Lebih Sering Dilihat Investor
Selain GOP nominal, investor biasanya memperhatikan GOP Margin.
Rumusnya:
GOP Margin = (GOP ÷ Total Revenue) × 100%
Contoh:
GOP = Rp700 juta
Revenue = Rp2 miliar
GOP Margin = 35%
Angka ini menunjukkan bahwa setiap Rp100 pendapatan yang masuk menghasilkan Rp35 laba operasional.
Berapa GOP Margin yang Sehat?
Angka ideal berbeda tergantung jenis hotel, lokasi, dan model bisnis.
Sebagai gambaran umum:
Hotel Bintang 3:
25% – 35%
Hotel Bintang 4:
30% – 40%
Hotel Bintang 5:
35% – 45%
Luxury Resort:
40%+
Hotel dengan GOP Margin di bawah 20% biasanya perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap struktur biaya dan strategi pendapatannya.
Penyebab GOP Hotel Rendah
Dalam berbagai audit operasional hotel, beberapa penyebab yang paling sering ditemukan antara lain:
Biaya tenaga kerja yang terlalu tinggi dibanding revenue.
Ketergantungan yang besar terhadap OTA sehingga biaya komisi terus meningkat.
Konsumsi listrik dan utilitas yang tidak terkendali.
Revenue tambahan seperti meeting room, wedding, dan F&B yang belum dimaksimalkan.
Proses operasional yang masih terlalu manual dan membutuhkan banyak tenaga kerja.
Pricing strategy yang terlalu agresif sehingga occupancy tinggi tetapi margin tipis.
Menariknya, sebagian besar masalah tersebut sebenarnya dapat diidentifikasi lebih cepat jika hotel memiliki dashboard operasional dan keuangan yang terintegrasi.
GOP dan Nilai Investasi Hotel
Bagi investor dan asset manager, GOP bukan sekadar angka profit.
GOP sering menjadi dasar dalam menentukan nilai sebuah aset hotel.
Semakin tinggi dan stabil GOP yang dihasilkan, semakin tinggi pula valuasi bisnis hotel tersebut.
Karena itu hotel yang fokus pada efisiensi operasional sering kali memiliki nilai investasi yang lebih baik dibanding hotel yang hanya mengejar pertumbuhan occupancy.
Dalam transaksi akuisisi hotel, pembeli biasanya lebih tertarik melihat kualitas profit daripada sekadar jumlah kamar yang terjual.
Tiga Pertanyaan yang Perlu Dijawab Setiap Owner Hotel
Ketika mengevaluasi GOP, ada tiga pertanyaan yang selalu muncul dalam diskusi manajemen:
Apakah revenue bertumbuh lebih cepat dibanding biaya operasional?
Apakah setiap departemen memberikan kontribusi profit yang sehat?
Apakah struktur biaya saat ini masih relevan dengan kondisi pasar?
Jawaban dari tiga pertanyaan tersebut sering kali memberikan gambaran yang lebih jelas dibanding sekadar melihat occupancy atau revenue bulanan.
Penutup
Dalam industri hotel, revenue memang mudah terlihat. Occupancy bahkan dapat dipantau setiap hari. Namun profitabilitas operasional sering kali tersembunyi di balik berbagai laporan departemen.
Karena itu banyak investor, operator, dan asset manager menjadikan GOP sebagai salah satu indikator utama dalam menilai kesehatan bisnis hotel. Bukan karena GOP adalah angka yang paling menarik, melainkan karena GOP menunjukkan kemampuan hotel mengubah aktivitas operasional menjadi keuntungan yang nyata.
Hotel yang memahami hubungan antara revenue, biaya operasional, dan GOP biasanya memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan investasi, ekspansi, maupun peningkatan profitabilitas jangka panjang.