Hotel Bintang 3 yang Lebih Untung dari Hotel Bintang 4
Masih banyak investor yang beranggapan bahwa semakin tinggi klasifikasi hotel, semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh.
Tips, strategi, dan insight seputar hotel management, teknologi, dan industri perhotelan Indonesia
Menampilkan 9 dari 627 artikel
Masih banyak investor yang beranggapan bahwa semakin tinggi klasifikasi hotel, semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh.
Lima tahun pertama sering menjadi fase yang penuh optimisme bagi sebuah hotel. Produk masih terasa baru. Fasilitas masih kompetitif. Tim memiliki semangat membangun reputasi. Pemasaran berjalan agresif.
Hotel dengan tingkat okupansi yang sama dapat menghasilkan profit berbeda karena kualitas eksekusi Front Office berbeda. KPI yang tepat membantu manajemen menghubungkan pelayanan tamu dengan revenue, efisiensi operasional, dan loyalitas pelanggan.
Forecast yang berkualitas tidak dihasilkan dari semakin banyaknya laporan, tetapi dari kemampuan memilih indikator yang benar-benar memengaruhi permintaan, pendapatan, dan profitabilitas hotel.
Di hotel, guest melihat angka pada bill. Management melihat revenue. Finance melihat settlement. Sementara employee melihat satu komponen yang dapat memengaruhi take-home income mereka: Service Charge. Komponen ini sering dianggap sebagai βtambahan gajiβ. Secara manajerial, perspektif tersebut terlalu sederhana. Service charge berkaitan dengan: kebijakan property; ketentuan hukum yang berlaku; revenue; mekanisme distribusi; employee compensation; payroll budgeting; retention; financial planning. Ketika revenue hotel naik, service charge yang diterima employee dapat ikut berubah sesuai mekanisme yang diterapkan property. Sebaliknya, ketika business performance turun, variable income employee dapat ikut terdampak. Inilah alasan service charge perlu dipahami sebagai bagian dari total compensation architecture, bukan sekadar bonus bulanan.
General Manager bukan sekadar jabatan paling senior di dalam hotel. Ia bertanggung jawab terhadap bagaimana sebuah property menghasilkan revenue, mengendalikan biaya, menjaga guest experience, mempertahankan asset condition, dan mencapai target owner. Karena itu membahas gaji General Manager hotel dengan satu angka nasional hampir tidak memiliki nilai analitis. GM hotel 60 kamar dan GM hotel 500 kamar dapat memiliki compensation yang berbeda secara signifikan. Begitu pula GM independent hotel dengan GM international chain. Perbedaan tersebut muncul karena economic responsibility yang dibawa oleh role tersebut tidak sama. Management seharusnya melihat: Property Scale β Business Complexity β P&L Responsibility β Market Value β Performance β Total Compensation
Front Office merupakan salah satu department yang paling mudah terlihat oleh tamu, tetapi compensation-nya sering dibahas hanya berdasarkan title. Receptionist sekian. Supervisor sekian. Front Office Manager sekian. Pendekatan tersebut terlalu sederhana. Dua hotel dengan posisi Front Office Agent yang sama dapat memiliki compensation berbeda karena: lokasi; kelas hotel; brand; jumlah kamar; volume transaksi; segmentasi tamu; kemampuan bahasa; shift; service charge; benefit; pengalaman; scope pekerjaan. Front Office Agent di hotel 80 kamar dengan operational model sederhana tidak memiliki workload yang sama dengan agent di hotel 400 kamar dengan high-volume arrival, group business, international guests, dan kompleksitas layanan yang lebih tinggi. Karena itu management seharusnya tidak bertanya hanya: βBerapa gaji Front Office?β Tetapi: βBerapa nilai pekerjaan, skill requirement, workload, dan total compensation untuk role tersebut?β
Housekeeping merupakan salah satu department dengan jumlah manpower terbesar di banyak hotel. Ketika occupancy meningkat, workload Housekeeping ikut bergerak. Ketika jumlah departure rooms meningkat, kebutuhan room cleaning meningkat. Ketika room type semakin kompleks, cleaning time dapat berubah. Karena itu membicarakan gaji Housekeeping hotel tidak cukup hanya dengan mencari nominal berdasarkan jabatan. Hotel perlu melihat hubungan antara: Workload β Manpower β Productivity β Compensation β Room Cost β Guest Experience Room Attendant yang menerima salary lebih tinggi belum tentu mahal jika mampu menghasilkan productivity dan quality yang lebih baik. Sebaliknya, salary rendah dapat menjadi mahal jika turnover tinggi, overtime meningkat, training berulang, dan room readiness terganggu.
Ketika labor cost meningkat sementara revenue tidak bergerak sebanding, respons yang sering muncul di hotel adalah menekan jumlah staff atau meminta team bekerja lebih cepat. Masalahnya, produktivitas tidak selalu rendah karena employee kurang bekerja. Housekeeping bisa kehilangan waktu karena room assignment tidak optimal. Front Office dapat mengalami antrean karena proses check-in terlalu banyak dilakukan secara manual. F&B bisa memiliki labor cost tinggi karena roster tidak mengikuti pola demand. Engineering dapat terlihat tidak produktif karena sebagian besar waktunya habis menangani breakdown yang seharusnya dapat dicegah melalui preventive maintenance. Artinya, produktivitas staff hotel tidak bisa dibaca hanya dari berapa banyak pekerjaan yang diselesaikan. Management perlu melihat hubungan: Workload β Manpower β Process β Technology β Productivity β Labor Cost β Guest Experience Jika satu bagian tidak seimbang, produktivitas keseluruhan ikut terpengaruh.