Tips HR Hotel

Jumlah Staff Hotel yang Ideal: Menghitung Manpower Berdasarkan Kamar, Occupancy, dan Beban Operasional

06 August 2026
Diperbarui 09 Aug 2026
11 menit baca
4 views
Jumlah Staff Hotel yang Ideal: Menghitung Manpower Berdasarkan Kamar, Occupancy, dan Beban Operasional

Pertanyaan β€œHotel 100 kamar idealnya punya berapa staff?” terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa berbeda jauh antar-property. Hotel 100 kamar dengan restoran 24 jam, ballroom, swimming pool, room service, laundry, dan full-service operation memiliki kebutuhan manpower berbeda dengan hotel 100 kamar yang hanya menawarkan room-only accommodation. Bahkan dua hotel dengan fasilitas yang sama dapat memiliki staffing level berbeda karena: occupancy; room mix; service standard; operating hours; outsourcing; automation; productivity; business mix; banquet activity. Karena itu, jumlah staff ideal bukan angka tetap. Yang lebih relevan bagi management adalah mencari economic staffing level: jumlah dan struktur tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan operasional dengan service standard yang ditargetkan tanpa menciptakan labor cost yang tidak produktif.

Pertanyaan “Hotel 100 kamar idealnya punya berapa staff?” terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa berbeda jauh antar-property.

Hotel 100 kamar dengan restoran 24 jam, ballroom, swimming pool, room service, laundry, dan full-service operation memiliki kebutuhan manpower berbeda dengan hotel 100 kamar yang hanya menawarkan room-only accommodation.

Bahkan dua hotel dengan fasilitas yang sama dapat memiliki staffing level berbeda karena:

  • occupancy;
  • room mix;
  • service standard;
  • operating hours;
  • outsourcing;
  • automation;
  • productivity;
  • business mix;
  • banquet activity.

Karena itu, jumlah staff ideal bukan angka tetap.

Yang lebih relevan bagi management adalah mencari economic staffing level: jumlah dan struktur tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan operasional dengan service standard yang ditargetkan tanpa menciptakan labor cost yang tidak produktif.


1. Jangan Mulai dari Headcount

Kesalahan pertama dalam manpower planning adalah langsung menentukan:

“Hotel kita butuh 100 staff.”

Pertanyaan yang lebih tepat:

Berapa workload yang harus ditangani?

Lalu:

Berapa labor hours yang dibutuhkan untuk menangani workload tersebut?

Baru setelah itu:

Berapa FTE yang dibutuhkan?

Framework-nya:

Demand → Workload → Productivity → Labor Hours → FTE → Shift → Labor Cost

Dengan pendekatan ini, jumlah staff menjadi konsekuensi dari kebutuhan bisnis, bukan target yang ditentukan di awal.


2. Gunakan Staff-to-Room Ratio sebagai Starting Point

Staff-to-room ratio dapat digunakan sebagai benchmark awal.

Formula sederhananya:

Total Staff ÷ Available Rooms

Misalnya:

100 staff

÷

100 rooms

=

1,0 staff per room

Namun angka tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai standar ideal.

Hotel full-service mungkin memiliki ratio lebih tinggi.

Limited-service hotel mungkin lebih rendah.

Resort dapat memiliki kebutuhan manpower berbeda karena area property yang luas.

Karena itu ratio berguna untuk menjawab:

“Apakah struktur manpower kita terlihat jauh berbeda dari property sejenis?”

Bukan:

“Berapa angka yang wajib kita gunakan?”


3. Hotel 100 Kamar Tidak Selalu Membutuhkan 100 Staff

Bayangkan tiga hotel:

Hotel A — Limited Service

100 kamar
F&B terbatas
Tidak ada banquet
Housekeeping sederhana
Technology cukup tinggi

Hotel B — Full Service

100 kamar
Restaurant
Room service
Swimming pool
Meeting room
Full Front Office operation

Hotel C — Resort

100 kamar
Area property luas
Multiple outlet
Recreation
Garden
Pool
Guest activities

Ketiganya sama-sama memiliki 100 kamar.

Tetapi kebutuhan manpower dapat berbeda secara signifikan.

Room count hanya salah satu workload driver.


4. Occupancy Mempengaruhi Staffing, tetapi Tidak Secara Linear

Misalnya:

Hotel memiliki:

200 kamar

Occupancy:

50%

Occupied rooms:

100

Jika occupancy naik menjadi:

80%

Occupied rooms:

160

Workload memang meningkat.

Namun bukan berarti manpower harus naik:

80% ÷ 50% = 1,6×

Hotel tidak otomatis membutuhkan 60% lebih banyak permanent staff.

Mengapa?

Karena sebagian manpower merupakan fixed operational coverage.

Contohnya:

  • GM;
  • Finance;
  • HR;
  • Security;
  • Engineering minimum coverage;
  • Front Office minimum coverage.

Sedangkan beberapa fungsi lebih sensitif terhadap demand:

  • Housekeeping;
  • F&B;
  • Banquet;
  • Casual labor.

Inilah alasan staffing model perlu memisahkan:

Fixed Capacity + Variable Capacity


5. Bedakan Core Staff dan Flexible Staff

Hotel dengan demand fluktuatif tidak harus mengantisipasi seluruh peak demand menggunakan permanent employee.

Struktur dapat terdiri dari:

Core Workforce

Untuk kebutuhan operasional stabil.

Flexible Workforce

Untuk kebutuhan tambahan saat demand meningkat.

Flexible capacity dapat berupa:

  • casual worker;
  • part-time;
  • seasonal employee;
  • outsource;
  • cross-trained staff.

Contohnya:

Hotel memiliki kebutuhan rata-rata 80 orang.

Peak season membutuhkan 100 orang.

Tidak otomatis berarti hotel harus memiliki 100 permanent employees sepanjang tahun.


6. Housekeeping Biasanya Menjadi Department yang Sangat Sensitif terhadap Occupancy

Housekeeping workload lebih erat dengan:

Rooms to Clean

daripada sekadar jumlah kamar.

Misalnya:

100 departure rooms.

Jika productivity standard:

15 rooms per room attendant

maka kebutuhan dasar:

100 ÷ 15 = 6,67

Sekitar:

7 room attendants

Tetapi angka tersebut belum termasuk:

  • stay-over;
  • public area;
  • turndown;
  • deep cleaning;
  • supervisor;
  • leave;
  • day off;
  • room complexity.

Maka 7 orang adalah operational baseline, bukan total housekeeping headcount.


7. Front Office Lebih Dipengaruhi Arrival dan Departure

Front Office memiliki kebutuhan minimum coverage.

Misalnya hotel hanya memiliki occupancy 30%.

Front Office tetap membutuhkan employee untuk:

  • check-in;
  • check-out;
  • guest requests;
  • payment;
  • telephone;
  • emergency;
  • night operation.

Karena itu Front Office memiliki:

Minimum Coverage

dan:

Peak Coverage

Peak dapat terjadi ketika:

  • group arrival;
  • check-in window;
  • large departure;
  • event;
  • holiday.

Jumlah staff ideal harus mempertimbangkan pola tersebut.


8. F&B Mengikuti Covers dan Operating Hours

Hotel dengan 100 kamar dapat memiliki kebutuhan F&B yang sangat berbeda.

Hotel A:

1 restaurant.

Hotel B:

1 restaurant + bar + room service + banquet.

Jika breakfast menghasilkan:

200 covers

tetapi dinner hanya:

60 covers,

manpower tidak harus sama sepanjang hari.

F&B dapat menggunakan:

Covers ÷ Labor Hours

sebagai salah satu productivity metric.

Staggered shift juga membantu mengalokasikan tenaga kerja pada peak meal period.


9. Engineering Membutuhkan Minimum Coverage

Engineering berbeda dari housekeeping.

Jika occupancy turun, hotel tidak dapat mengurangi engineering menjadi nol.

Building tetap membutuhkan:

  • electrical monitoring;
  • water system;
  • HVAC;
  • equipment maintenance;
  • preventive maintenance;
  • emergency response.

Maka manpower engineering merupakan kombinasi:

Minimum Coverage + Preventive Maintenance + Work Order + Emergency Requirement


10. Security Tidak Bisa Dihitung Hanya dari Occupancy

Security lebih dipengaruhi oleh:

  • property size;
  • number of entrances;
  • parking;
  • operating hours;
  • access points;
  • risk profile;
  • event;
  • local requirements.

Hotel dengan 100 kamar dan property compact tidak memiliki kebutuhan security yang sama dengan resort 100 kamar dengan area luas dan beberapa access point.


11. Jangan Lupakan Department Support

Jumlah staff hotel bukan hanya:

Front Office + Housekeeping + F&B.

Ada juga:

  • Finance;
  • HR;
  • Sales & Marketing;
  • Revenue;
  • IT;
  • Purchasing;
  • Security;
  • Engineering;
  • Executive Office.

Semakin kompleks operating model, semakin besar support structure yang dibutuhkan.

Tetapi automation dan outsourcing dapat mengubah ratio tersebut secara signifikan.


12. Gunakan FTE, Bukan Headcount Saja

Headcount menunjukkan:

berapa orang yang bekerja.

FTE menunjukkan:

berapa kapasitas kerja full-time equivalent yang tersedia.

Misalnya:

10 employee full-time

berbeda dengan:

8 full-time + 4 part-time.

Headcount:

  1.  

Tetapi FTE tidak sama dengan 12.

Untuk workforce planning, FTE lebih relevan karena dapat menggambarkan actual labor capacity.


13. Hitung Effective Labor Hours

Satu employee secara teoritis memiliki sejumlah jam kerja per tahun.

Namun tidak semua jam tersebut menjadi productive hours.

Kurangi faktor seperti:

  • annual leave;
  • public holiday;
  • sick leave;
  • training;
  • day off;
  • approved absence.

Formula sederhana:

Required FTE = Required Labor Hours ÷ Effective Available Hours per FTE

Actual effective hours harus disesuaikan dengan work schedule, policy, dan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.


14. Hitung Manpower dari Productivity

Misalnya department membutuhkan:

34.000 labor hours per tahun.

Effective productive hours per FTE:

1.700 jam.

Maka:

34.000 ÷ 1.700 = 20 FTE

Baseline:

20 FTE

Kemudian management harus memeriksa:

  • shift coverage;
  • skill mix;
  • supervisory requirement;
  • minimum staffing;
  • peak demand.

Jadi angka 20 adalah baseline capacity, bukan otomatis final organization structure.


15. Staff Ideal Harus Memiliki Skill Mix yang Tepat

20 employee tidak selalu sama dengan 20 employee.

Contoh:

20 junior staff

berbeda dengan:

14 staff + 4 senior + 2 supervisor.

Department membutuhkan struktur kompetensi.

Karena itu manpower planning harus melihat:

Headcount + FTE + Skill Mix + Coverage

bukan headcount saja.


16. Terlalu Sedikit Staff Bisa Lebih Mahal

Understaffing dapat terlihat sebagai saving.

Payroll turun.

Tetapi efeknya dapat muncul dalam:

Understaffing

Overtime

Fatigue

Service Error

Guest Complaint

Turnover

Recruitment & Training Cost

Karena itu payroll bukan satu-satunya biaya yang perlu diperhatikan.


17. Terlalu Banyak Staff Juga Merusak Profitability

Overstaffing memiliki konsekuensi berbeda:

  • idle hours;
  • low productivity;
  • high payroll;
  • low revenue per labor hour;
  • pressure terhadap GOP.

Misalnya hotel mempertahankan 120 staff saat demand hanya membutuhkan capacity 100 FTE.

Jika 20 FTE tersebut tidak menghasilkan output tambahan yang sepadan, labor cost menjadi drag terhadap profitability.


18. Gunakan Labor Cost Percentage

Management dapat mengukur:

Labor Cost % = Total Labor Cost ÷ Total Revenue × 100%

Contoh:

Labor cost:

Rp6 miliar.

Revenue:

Rp40 miliar.

Maka:

6 ÷ 40 × 100% = 15%

Angka ini perlu dibaca bersama:

  • service standard;
  • GOP;
  • occupancy;
  • room rate;
  • business mix;
  • outsourcing;
  • service model.

Tidak ada satu angka ideal yang berlaku untuk semua hotel.


19. Labor Cost per Occupied Room

Untuk Rooms Division, metric ini sangat berguna.

Formula:

Room Labor Cost ÷ Occupied Rooms

Misalnya:

Room labor cost:

Rp500 juta.

Occupied rooms:

10.000.

Hasil:

Rp50.000 per occupied room

Jika occupied rooms turun menjadi 7.000 sementara labor cost tetap:

Rp71.429 per occupied room

Ini menunjukkan bagaimana fixed labor structure dapat meningkatkan unit cost ketika demand turun.


20. Revenue per Labor Hour

Metric lain yang berguna:

Revenue ÷ Labor Hours

Misalnya:

Revenue:

Rp30 miliar.

Labor hours:

100.000.

Maka:

Rp300.000 revenue per labor hour

Jika revenue meningkat sementara labor hours relatif stabil, productivity economics membaik.

Sebaliknya, labor hours naik lebih cepat daripada revenue perlu diperiksa.


21. Gunakan Benchmark dengan Hati-Hati

Benchmark dapat membantu management menemukan outlier.

Misalnya:

Hotel sejenis memiliki:

0,8–1,0 employee per available room

Hotel kita:

1,5 employee per available room

Angka tersebut layak diteliti.

Tetapi belum berarti hotel harus langsung mengurangi 50 employee.

Cari penyebab:

  • service level;
  • F&B;
  • banquet;
  • outsourcing;
  • automation;
  • property size;
  • operating hours;
  • productivity.

Benchmark adalah diagnostic tool, bukan automatic restructuring instruction.


22. Buat Manpower Budget Berdasarkan Demand

Daripada membuat budget:

“Tahun depan headcount = 100.”

Lebih baik gunakan:

Low Demand → Base Staffing

Normal Demand → Normal Staffing

Peak Demand → Flexible Capacity

Dengan begitu manpower budget lebih adaptif.

Forecast occupancy dan business volume dapat menjadi input workforce planning.


23. Roster Menentukan Apakah Headcount Benar-Benar Efektif

Hotel bisa memiliki headcount yang ideal tetapi roster buruk.

Contoh:

10 staff tersedia.

Peak workload membutuhkan 6 staff pada pukul 16.00–20.00.

Tetapi roster hanya menempatkan:

3 staff.

Sisanya masuk pagi.

Secara headcount hotel “cukup”.

Secara operational:

Understaffed.

Maka:

Headcount ≠ Coverage


24. Gunakan Roster vs Actual

Setelah bulan berjalan, bandingkan:

Planned Labor Hours

vs

Actual Labor Hours

Misalnya:

Budget:

10.000 jam.

Actual:

11.500 jam.

Variance:

+15%

Cari penyebab:

  • overtime;
  • absenteeism;
  • high occupancy;
  • event;
  • understaffing;
  • poor productivity.

Jika variance terus muncul, manpower structure perlu dievaluasi.


25. Tentukan Staff Ideal dengan Model 3 Lapisan

Model sederhana yang dapat digunakan management:

Layer 1 — Minimum Coverage

Jumlah minimum untuk menjaga operasi.

Layer 2 — Normal Demand

Tambahan manpower untuk demand rata-rata.

Layer 3 — Peak Capacity

Tambahan manpower untuk high-demand period.

Hasilnya:

Core Staff + Flexible Capacity

Model ini lebih fleksibel daripada menetapkan satu angka headcount untuk seluruh tahun.


26. Contoh Struktur Manpower Hotel 100 Kamar

Tidak ada angka universal, tetapi management dapat membuat simulasi seperti:

Department Baseline Driver
Front Office Berdasarkan coverage Arrival / Departure
Housekeeping Berdasarkan workload Rooms to Clean
F&B Berdasarkan demand Covers / Outlet
Engineering Minimum + workload Work Orders
Security Coverage Access / Property
Finance Transaction volume Accounting Workload
HR Employee population Workforce Size
Sales Business volume Account / Revenue
Management Operating model Property Complexity

Struktur ini sengaja tidak memberikan angka tunggal per department karena operating model menentukan kebutuhan actual.


27. Cara Menentukan Apakah Hotel Overstaffed

Beberapa indikator:

Labor Hours ↑

tetapi:

Output ↔

atau:

Revenue ↔

Jika:

  • overtime rendah;
  • idle time tinggi;
  • productivity turun;
  • labor cost percentage tinggi;
  • revenue per labor hour turun;

management perlu mengevaluasi kemungkinan overstaffing.


28. Cara Menentukan Apakah Hotel Understaffed

Indikator yang dapat diperhatikan:

  • recurring overtime;
  • high absenteeism impact;
  • service delay;
  • room release terlambat;
  • guest complaint;
  • employee fatigue;
  • high turnover;
  • maintenance backlog;
  • supervisor coverage terlalu tipis.

Tidak semua indikator otomatis berarti kekurangan employee.

Bisa juga masalah berasal dari poor scheduling atau low productivity.


29. Gunakan Economic Staffing Level

Tujuan akhir bukan:

Minimum Headcount

dan bukan:

Maximum Service

Tetapi titik keseimbangan:

Labor Cost

vs

Operational Capacity

vs

Service Quality

vs

Revenue

Inilah yang dapat disebut sebagai:

Economic Staffing Level

Jumlah staff yang cukup untuk memenuhi operational requirement dan service standard pada cost structure yang masuk akal.


30. Framework Menentukan Jumlah Staff Hotel

Gunakan proses:

Forecast Demand

Identify Workload

Determine Productivity

Calculate Labor Hours

Calculate FTE

Add Minimum Coverage

Check Skill Mix

Build Shift

Estimate Labor Cost

Compare Revenue / GOP

Monitor Actual

Adjust Staffing Model

Dengan proses tersebut, manpower menjadi bagian dari business planning.


KPI untuk Menilai Apakah Jumlah Staff Sudah Ideal

Management dapat memonitor:

Staff per Available Room

Total Staff ÷ Available Rooms

Labor Cost %

Labor Cost ÷ Revenue × 100%

Labor Cost per Occupied Room

Room Labor Cost ÷ Occupied Rooms

Labor Hours per Occupied Room

Labor Hours ÷ Occupied Rooms

Revenue per Labor Hour

Revenue ÷ Labor Hours

Overtime Rate

Overtime Hours ÷ Total Labor Hours × 100%

Revenue per Employee

Revenue ÷ Average FTE

Productivity

Output ÷ Labor Hours

Tidak semua harus menjadi KPI individu.

Sebagian lebih tepat digunakan sebagai management metrics untuk membaca health workforce secara keseluruhan.


5 Pertanyaan Sebelum Menambah atau Mengurangi Staff

Sebelum management membuka recruitment atau melakukan manpower reduction, jawab:

1. Apakah workload memang meningkat atau hanya roster yang tidak efisien?

2. Apakah productivity sudah sesuai standard?

3. Apakah overtime bersifat temporary atau recurring?

4. Apakah pekerjaan dapat dialihkan melalui cross-training, automation, atau outsourcing?

5. Apakah perubahan manpower menghasilkan dampak yang sepadan terhadap revenue, service, dan GOP?

Lima pertanyaan ini membantu management menghindari keputusan staffing yang hanya berdasarkan intuisi.


Penutup

Tidak ada satu angka yang dapat disebut sebagai jumlah staff hotel yang ideal untuk seluruh property.

Hotel 100 kamar bisa membutuhkan struktur manpower yang sangat berbeda dari hotel 100 kamar lainnya.

Karena yang menentukan bukan hanya:

Room Count

tetapi:

Demand + Workload + Productivity + Service Level + Operating Model + Technology + Labor Cost

Cara yang lebih sehat adalah menghitung:

Workload → Labor Hours → FTE → Shift → Coverage → Cost

Kemudian menguji hasilnya terhadap:

Revenue → GOP → Service Quality

Jika hotel hanya mengejar jumlah staff paling rendah, risiko understaffing meningkat.

Jika hotel hanya mengejar service tanpa memperhatikan productivity, labor cost dapat menggerus profitability.

Target management seharusnya bukan “staff sesedikit mungkin.”

Targetnya adalah:

jumlah tenaga kerja yang tepat untuk kapasitas bisnis yang sedang dijalankan.

Karena manpower hotel yang ideal bukan angka yang terlihat bagus di organizational chart.

Ia adalah jumlah kapasitas kerja yang mampu menghasilkan operational output dan service level yang dibutuhkan dengan economics yang sehat.

Bagikan Artikel

Bantu teman Anda temukan insight ini