Tips Operasional hotel

Hotel Terlihat Hemat Energi, Tapi Biayanya Masih Tinggi

09 August 2026
Diperbarui 12 Aug 2026
9 menit baca
7 views
Hotel Terlihat Hemat Energi, Tapi Biayanya Masih Tinggi

Penghematan yang paling bernilai bukan selalu yang menghasilkan penurunan kWh terbesar, melainkan penghematan yang dapat dilakukan tanpa menurunkan guest experience, reliability operasional, maupun kualitas aset.

Hotel dapat memasang lampu LED di seluruh properti, memasang sensor, membuat kampanye hemat energi, bahkan meminta seluruh staff mematikan peralatan yang tidak digunakan. Namun ketika laporan bulanan keluar, energy cost masih berada di atas budget. Situasi seperti ini cukup sering terjadi karena efisiensi energi tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak perangkat hemat energi yang dipasang. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seluruh sistem hotel menggunakan energi dan apakah manajemen mampu menemukan pemborosan yang sebenarnya.

Hotel merupakan bisnis dengan kebutuhan energi yang relatif kompleks. Kamar harus tetap nyaman, lobby harus memiliki pencahayaan dan temperatur yang sesuai, kitchen dan laundry memiliki equipment berdaya tinggi, hot water harus tersedia, lift terus beroperasi, sementara berbagai sistem Engineering harus tetap aktif untuk menjaga operasional. Karena itu, target efisiensi bukan membuat konsumsi energi turun tanpa batas. Hotel tetap harus menjual comfort dan service. Yang perlu ditekan adalah energi yang terpakai tanpa memberikan nilai operasional yang sepadan.

Masalahnya Sering Bukan pada Lampu

Lighting mudah terlihat sehingga sering menjadi target pertama program penghematan energi. Pergantian lampu konvensional ke LED memang dapat memberikan efisiensi, terutama pada area dengan operating hours tinggi. Namun kontribusinya terhadap total energy consumption hotel perlu dibandingkan dengan sistem yang memiliki beban jauh lebih besar.

HVAC, hot water, kitchen, laundry, refrigeration, pump, dan berbagai mechanical equipment dapat menjadi sumber konsumsi energi yang lebih signifikan. Jika program efisiensi hanya berfokus pada lampu sementara AC bekerja tidak optimal atau equipment sudah terlalu tua, dampaknya terhadap total energy cost mungkin tidak terlalu besar.

Manajemen perlu memulai dari pertanyaan sederhana: energi paling banyak digunakan di mana? Setelah area terbesar diketahui, barulah program efisiensi dapat diarahkan ke sumber konsumsi yang memiliki dampak paling besar.

HVAC Sering Menjadi Area dengan Potensi Efisiensi Besar

Sistem HVAC bekerja dalam periode panjang dan sangat dipengaruhi oleh occupancy, temperatur luar, kondisi equipment, serta operating schedule. Karena itu, perubahan kecil pada cara sistem bekerja dapat memberikan dampak cukup besar terhadap konsumsi energi.

AC yang filter-nya kotor, condenser tidak terawat, sensor tidak akurat, atau equipment yang sudah mengalami penurunan performa dapat membutuhkan energi lebih besar untuk mencapai kondisi yang sama. Masalah tersebut sering tidak langsung terlihat karena AC masih terasa dingin. Namun dari sisi energy performance, equipment mungkin sudah bekerja lebih keras dari kondisi normal.

Preventive maintenance memiliki peran besar di sini. Data maintenance dapat dibandingkan dengan konsumsi energi untuk melihat apakah terdapat pola tertentu sebelum equipment mengalami failure.

Kamar Kosong Tidak Harus Mengonsumsi Energi Seperti Kamar Terjual

Occupancy memberikan peluang efisiensi yang cukup besar bagi hotel karena kebutuhan energi guest room berubah berdasarkan status kamar.

Kamar yang occupied memiliki kebutuhan berbeda dengan kamar vacant, out of order, atau sedang dalam proses cleaning. Jika sistem hotel mampu menghubungkan room status dengan kontrol energi, operating mode dapat disesuaikan tanpa mengganggu kebutuhan operasional.

Namun penerapannya harus mempertimbangkan kondisi properti. Tidak semua sistem dapat langsung dibuat otomatis. Hotel perlu memperhatikan humidity, room readiness, maintenance requirement, dan standar operasional sebelum menentukan bagaimana energi digunakan ketika kamar tidak ditempati.

Data dari Front Office dan Housekeeping menjadi relevan karena room status yang akurat merupakan salah satu input untuk pengelolaan energi yang lebih efektif.

Efisiensi Energi Tidak Sama dengan Mengurangi Kenyamanan

Ada batas yang tidak boleh dilewati dalam program energy saving hotel. Tamu tidak datang untuk merasakan bagaimana hotel sedang berhemat.

Jika temperatur kamar terlalu tinggi, hot water tidak stabil, pencahayaan terlalu redup, atau fasilitas tertentu dibatasi secara berlebihan, penghematan dapat berubah menjadi complaint.

Karena itu, indikator efisiensi tidak seharusnya hanya berupa penurunan kWh. Manajemen juga perlu melihat apakah guest satisfaction, complaint, operational availability, dan service standard tetap terjaga.

Efisiensi yang sehat adalah ketika hotel berhasil mengurangi pemborosan tanpa membuat produk yang diterima tamu mengalami penurunan.

Ukur Efisiensi Berdasarkan Aktivitas Hotel

Membandingkan konsumsi listrik bulan ini dengan bulan lalu sering menghasilkan kesimpulan yang kurang tepat. Jika bulan ini occupancy naik, konsumsi energi memang berpotensi meningkat. Sebaliknya, jika occupancy turun tetapi konsumsi energi tetap tinggi, ada alasan bagi Engineering untuk melakukan investigation.

Karena itu, hotel dapat menggunakan beberapa indikator untuk membaca energy performance:

  1. Energy consumption per occupied room, untuk melihat konsumsi yang berkaitan dengan kamar terjual.
  2. Energy cost per occupied room, untuk melihat dampaknya terhadap biaya operasional.
  3. Energy consumption per square meter, berguna untuk membandingkan performa bangunan.
  4. Peak demand, untuk mengetahui periode dengan beban energi tertinggi.
  5. Energy consumption by department atau area, jika sistem metering memungkinkan.

Tidak ada satu benchmark yang cocok untuk seluruh hotel. Hotel full-service dengan ballroom, laundry, restaurant, swimming pool, dan kitchen besar akan memiliki energy profile berbeda dengan limited-service hotel. Karena itu, benchmark harus dibaca bersama karakteristik properti.

Cari Equipment yang Bekerja Terlalu Keras

Salah satu peluang efisiensi terbesar sering muncul dari equipment yang masih berfungsi tetapi performanya sudah menurun.

Motor, pump, chiller, air conditioning system, refrigeration equipment, boiler, water heater, dan equipment lainnya dapat mengalami deterioration secara bertahap. Konsumsi energi meningkat, tetapi kegagalan total belum terjadi.

Kondisi seperti ini berbahaya karena mudah terlewat. Engineering melihat equipment masih berjalan, sementara Finance melihat energy cost meningkat.

Data maintenance dan energy monitoring perlu dibaca bersama. Jika sebuah equipment semakin sering membutuhkan repair sekaligus menunjukkan peningkatan consumption, manajemen memiliki dasar untuk mengevaluasi apakah repair masih ekonomis atau replacement mulai lebih masuk akal.

Jadwal Operasional Bisa Menjadi Sumber Pemborosan

Tidak semua pemborosan berasal dari equipment yang rusak. Operating schedule yang tidak tepat juga dapat menyebabkan energi digunakan lebih lama dari yang diperlukan.

Meeting room yang tetap menggunakan full air conditioning setelah event selesai. Area tertentu tetap memiliki full lighting meskipun aktivitas sudah berhenti. Equipment kitchen atau laundry dinyalakan lebih awal tanpa kebutuhan operasional yang jelas.

Masing-masing mungkin terlihat kecil. Namun ketika terjadi setiap hari selama satu tahun, accumulated consumption dapat menjadi signifikan.

Engineering bersama masing-masing department perlu mengevaluasi operating hours dan memastikan equipment digunakan sesuai kebutuhan aktual.

Peak Load Jangan Diabaikan

Hotel tidak hanya perlu mengetahui berapa banyak energi yang digunakan, tetapi juga kapan beban tertinggi terjadi.

Beberapa equipment dengan konsumsi tinggi mungkin beroperasi secara bersamaan. Laundry sedang berjalan, kitchen memasuki periode sibuk, HVAC bekerja pada beban tinggi, sementara hot water system dan pump juga aktif. Jika tidak dikelola, kondisi tersebut dapat menghasilkan peak demand yang tinggi.

Scheduling dapat membantu mengurangi overlap yang tidak diperlukan. Beberapa proses dapat dipindahkan ke waktu berbeda tanpa mengganggu guest experience.

Pendekatan ini membutuhkan koordinasi lintas-departemen karena energy efficiency tidak hanya berada di tangan Engineering.

Behaviour Staff Tetap Berpengaruh

Teknologi dapat membantu, tetapi kebiasaan operasional staff tetap memiliki kontribusi. Peralatan yang dibiarkan menyala, pintu area ber-AC yang sering terbuka, penggunaan equipment di luar operating hours, atau kurangnya perhatian terhadap abnormal condition dapat meningkatkan consumption.

Namun program energy saving yang hanya mengandalkan poster "hemat energi" biasanya tidak cukup.

Staff perlu mengetahui perilaku apa yang diharapkan, mengapa hal tersebut dilakukan, dan bagaimana hasilnya diukur. Department juga perlu memiliki ownership terhadap consumption masing-masing jika data memungkinkan untuk dipantau.

Energy efficiency akan lebih mudah menjadi bagian dari budaya operasional ketika hasilnya dapat dilihat dan dikaitkan dengan aktivitas departemen.

Investasi Teknologi Harus Dihitung, Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Smart sensor, Building Management System, energy monitoring, variable speed drive, high-efficiency equipment, solar photovoltaic, dan teknologi lainnya dapat membuka peluang efisiensi.

Namun tidak semua investasi otomatis menghasilkan return yang baik untuk setiap hotel.

Manajemen perlu melihat beberapa hal sebelum melakukan investasi:

  • Capital cost
  • Expected energy saving
  • Maintenance impact
  • Equipment life
  • Payback period
  • Operational disruption
  • Availability of technical support

Proyek dengan teknologi paling mahal belum tentu menjadi proyek dengan return terbaik. Prioritas seharusnya diberikan pada solusi yang memiliki business case paling jelas untuk kondisi properti tersebut.

Energy Efficiency Harus Masuk ke Capital Planning

Program efisiensi energi sering berhenti pada level operational saving karena manajemen enggan mengeluarkan CAPEX. Padahal beberapa sumber pemborosan hanya dapat diselesaikan melalui replacement atau upgrade equipment.

Jika equipment lama memiliki maintenance cost tinggi, downtime meningkat, dan energy consumption membesar, mempertahankannya mungkin justru menghasilkan total cost yang lebih tinggi.

Di sinilah data energy consumption dapat menjadi input untuk capital planning. Engineering dapat menunjukkan equipment yang membutuhkan perhatian, Finance dapat menghitung financial impact, sementara manajemen dapat menentukan prioritas investasi berdasarkan return dan risiko.

Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan Manajemen

1. Mulai dari konsumsi terbesar. Jangan menghabiskan terlalu banyak effort pada penghematan kecil jika sumber konsumsi utama berasal dari HVAC, hot water, kitchen, laundry, atau mechanical equipment.

2. Ukur efisiensi berdasarkan aktivitas. Gunakan occupancy, operating hours, luas area, dan penggunaan fasilitas sebagai konteks ketika membaca konsumsi energi. Angka total saja sering menyesatkan.

3. Hubungkan energy saving dengan asset strategy. Equipment yang boros sekaligus sering rusak perlu masuk evaluasi CAPEX. Efisiensi energi tidak selalu bisa dicapai hanya dengan perubahan perilaku.

Dari Cost Saving Menjadi Asset Strategy

Efisiensi energi sering dibicarakan sebagai cara menurunkan tagihan bulanan. Perspektif tersebut benar, tetapi terlalu sempit jika digunakan untuk mengambil keputusan jangka panjang.

Energy performance dapat memberikan gambaran mengenai kondisi aset. Equipment yang membutuhkan lebih banyak energi untuk menghasilkan output yang sama mungkin menunjukkan deterioration. Jika pola tersebut dikombinasikan dengan maintenance history, hotel memiliki informasi yang lebih kuat mengenai health asset.

Artinya, energy efficiency juga dapat membantu asset manager menentukan prioritas refurbishment dan replacement.

Hotel yang berhasil mengelola energi dengan baik bukan hanya mendapatkan operating cost yang lebih rendah. Mereka juga memiliki data yang lebih baik untuk mengambil keputusan mengenai umur ekonomis equipment dan kebutuhan investasi properti.

Jangan Mengejar Angka Penghematan dengan Mengorbankan Produk

Program energy efficiency yang hanya mengejar persentase pengurangan konsumsi dapat menciptakan keputusan yang salah. Hotel mungkin berhasil menurunkan kWh, tetapi jika complaint meningkat, guest satisfaction turun, atau operational availability terganggu, saving tersebut memiliki konsekuensi lain.

Manajemen perlu melihat energy efficiency sebagai keseimbangan antara cost, comfort, reliability, dan asset performance.

Target terbaik bukan sekadar "mengurangi listrik sebanyak mungkin". Targetnya adalah mendapatkan output operasional yang sama atau lebih baik dengan input energi yang lebih efisien.

Efisiensi energi hotel bukan proyek sekali jalan yang selesai setelah lampu diganti LED atau sensor dipasang di beberapa area. Konsumsi energi dipengaruhi oleh kondisi equipment, occupancy, operating schedule, maintenance, perilaku staff, desain bangunan, hingga keputusan investasi. Karena itu, hotel perlu mengidentifikasi sumber konsumsi terbesar, mengukur energy intensity berdasarkan aktivitas, memantau equipment yang mulai tidak efisien, dan menghubungkan energy performance dengan maintenance serta capital planning. Penghematan yang paling bernilai bukan selalu yang menghasilkan penurunan kWh terbesar, melainkan penghematan yang dapat dilakukan tanpa menurunkan guest experience, reliability operasional, maupun kualitas aset. Ketika pendekatan tersebut diterapkan secara konsisten, efisiensi energi berubah dari sekadar program pengurangan biaya menjadi bagian dari strategi pengelolaan hotel secara keseluruhan.

Bagikan Artikel

Bantu teman Anda temukan insight ini