Tips HR Hotel

Decision Making untuk Manager Hotel: Mengambil Keputusan Cepat Tanpa Kehilangan Akurasi

06 August 2026
Diperbarui 12 Aug 2026
13 menit baca
8 views
Decision Making untuk Manager Hotel: Mengambil Keputusan Cepat Tanpa Kehilangan Akurasi

Manager hotel membuat keputusan setiap hari. Sebagian terlihat sederhana: mengatur manpower; mengubah roster; menangani guest complaint; melakukan room upgrade; menyetujui overtime; mengatur operational priorities. Sebagian lainnya memiliki konsekuensi lebih besar: menerima group business; melakukan cost reduction; mengganti vendor; menyetujui CAPEX; mengambil tindakan terhadap employee; menangani operational crisis. Masalahnya, hotel beroperasi dalam lingkungan yang: 24/7 + High Pressure + Limited Information + Immediate Consequences. Manager tidak selalu memiliki waktu untuk menunggu seluruh data tersedia. Karena itu kemampuan decision making bukan sekadar: β€œBerani mengambil keputusan.” Tetapi: β€œMampu mengambil keputusan yang cukup baik, cukup cepat, dengan risiko yang dapat dikendalikan.”

Manager hotel membuat keputusan setiap hari.

Sebagian terlihat sederhana:

  • mengatur manpower;
  • mengubah roster;
  • menangani guest complaint;
  • melakukan room upgrade;
  • menyetujui overtime;
  • mengatur operational priorities.

Sebagian lainnya memiliki konsekuensi lebih besar:

  • menerima group business;
  • melakukan cost reduction;
  • mengganti vendor;
  • menyetujui CAPEX;
  • mengambil tindakan terhadap employee;
  • menangani operational crisis.

Masalahnya, hotel beroperasi dalam lingkungan yang:

24/7 + High Pressure + Limited Information + Immediate Consequences.

Manager tidak selalu memiliki waktu untuk menunggu seluruh data tersedia.

Karena itu kemampuan decision making bukan sekadar:

“Berani mengambil keputusan.”

Tetapi:

“Mampu mengambil keputusan yang cukup baik, cukup cepat, dengan risiko yang dapat dikendalikan.”


1. Apa Itu Decision Making dalam Hotel Management?

Decision making adalah proses memilih:

Action

dari beberapa alternatif berdasarkan:

  • objective;
  • data;
  • risk;
  • resource;
  • authority;
  • timing;
  • business impact.

Manager tidak selalu mencari keputusan yang:

100% perfect.

Dalam situasi operasional, target yang lebih realistis adalah:

Best Available Decision Under Current Information.


2. Mengapa Decision Making Sangat Penting di Hotel?

Hotel memiliki karakter:

Real-Time Operation.

Jika guest menunggu:

30 menit

manager tidak dapat mengatakan:

“Kita tunggu analisis lengkap besok.”

Keputusan harus dibuat:

Now.

Contohnya:

Room tidak ready

→ upgrade?

Guest complaint

→ compensation?

Staff shortage

→ overtime?

Overbooking

→ relocation?

Setiap keputusan memiliki:

Cost + Risk + Guest Impact.


3. Decision Making ≠ Insting Semata

Pengalaman memang penting.

Tetapi pengalaman tanpa data dapat menghasilkan:

Bias.

Manager mungkin berpikir:

“Biasanya masalah seperti ini terjadi karena staff tersebut.”

Tetapi data mungkin menunjukkan:

Process Failure.

Karena itu gunakan:

Experience + Data + Context

bukan:

Experience Alone.


4. Gunakan Decision Hierarchy

Tidak semua keputusan memiliki bobot sama.

Level 1 — Routine

Contoh:

  • shift allocation;
  • room assignment;
  • daily briefing.

Fast Decision

Level 2 — Operational

Contoh:

  • guest recovery;
  • manpower adjustment;
  • overtime.

Data + Policy

Level 3 — Tactical

Contoh:

  • vendor change;
  • department cost action;
  • campaign adjustment.

Analysis + Cross-Department Input

Level 4 — Strategic

Contoh:

  • major CAPEX;
  • restructuring;
  • market positioning;
  • major commercial commitment.

Deep Analysis + Management Approval

Semakin tinggi impact:

Decision Discipline ↑


5. Bedakan Reversible dan Irreversible Decision

Ini salah satu prinsip penting.

Reversible Decision

Dapat diperbaiki.

Contoh:

  • shift adjustment;
  • temporary manpower allocation;
  • minor service recovery.

Keputusan dapat dibuat:

Fast.

Irreversible / High-Cost Decision

Sulit dibatalkan.

Contoh:

  • termination;
  • major contract;
  • large CAPEX;
  • major pricing strategy.

Membutuhkan:

More Analysis + More Approval.

Prinsip:

Fast on reversible decisions, deliberate on irreversible decisions.


6. Decision Speed Harus Mengikuti Cost of Delay

Tidak mengambil keputusan juga merupakan:

Decision.

Contoh:

Room sudah siap tetapi guest menunggu karena manager belum menentukan:

Room allocation.

Cost of delay:

  • guest frustration;
  • service recovery;
  • room idle time;
  • operational congestion.

Jadi manager harus membandingkan:

Cost of Action

vs

Cost of Inaction


7. Gunakan Decision Matrix

Untuk keputusan yang memiliki beberapa alternatif:

Option Cost Guest Impact Operational Risk Speed
A Low Medium High Fast
B Medium High Low Medium
C High High Low Slow

Manager dapat melihat:

Trade-Off

bukan hanya:

Option paling murah.


8. Jangan Mengejar Solusi Termurah

Cost reduction bukan berarti:

Lowest Cost

tetapi:

Best Value

Contoh:

Vendor A:

Rp80 juta

Vendor B:

Rp100 juta

Jika Vendor A memiliki:

  • response time buruk;
  • downtime tinggi;
  • warranty rendah;

maka biaya sebenarnya dapat lebih tinggi.

Gunakan:

Total Cost of Ownership

bukan hanya:

Purchase Price.


9. Gunakan Cost-Benefit Analysis

Untuk keputusan investasi:

Benefit > Cost

tetapi benefit harus dihitung secara realistis.

Contoh:

Hotel mempertimbangkan sistem automation:

Investment: Rp300 juta

Expected annual saving:

Rp120 juta

Simple payback:

2,5 tahun

Tetapi manager tetap harus melihat:

  • implementation risk;
  • maintenance;
  • employee adoption;
  • system integration;
  • expected useful life.

Angka bukan satu-satunya faktor.


10. Decision Making Harus Menggunakan Data yang Relevan

Jangan mengumpulkan:

Semua Data

jika tidak diperlukan.

Gunakan:

Decision-Relevant Data

Contoh:

Keputusan manpower Housekeeping membutuhkan:

  • occupancy;
  • arrival;
  • departure;
  • room productivity;
  • staffing;
  • absenteeism.

Tidak semua data HR harus masuk.

Prinsip:

Relevant Data > More Data


11. Bedakan Leading dan Lagging Indicators

Lagging Indicator

Menunjukkan apa yang sudah terjadi.

Contoh:

  • revenue;
  • GOP;
  • guest complaints;
  • turnover.

Leading Indicator

Memberi sinyal tentang apa yang mungkin terjadi.

Contoh:

  • booking pace;
  • forecast;
  • pipeline;
  • absenteeism trend;
  • cancellation trend.

Manager yang hanya melihat lagging data:

Terlambat bereaksi.


12. Gunakan Exception-Based Decision Making

Manager tidak perlu melihat:

Semua transaksi.

Fokus pada:

Exception

Contoh:

Revenue Manager melihat:

  • ADR variance;
  • pickup anomaly;
  • cancellation spike.

Finance Manager melihat:

  • budget variance;
  • unusual expense;
  • AR aging.

HR Manager melihat:

  • absenteeism spike;
  • overtime anomaly;
  • turnover pattern.

Manager mengalokasikan attention ke:

What Deviates from Normal.


13. Decision Making untuk Guest Complaint

Guest complaint membutuhkan:

Fast + Proportional Decision

Gunakan:

Severity

Seberapa serius?

Guest Value

Seberapa penting guest/account tersebut?

Root Cause

Apa penyebabnya?

Recovery Cost

Berapa biaya resolution?

Recurrence Risk

Apakah masalah akan terulang?

Contoh:

Minor complaint:

Supervisor Resolution

Major complaint:

Manager Resolution

Critical issue:

Executive Escalation


14. Jangan Overcompensate

Guest recovery bukan:

“Siapa yang memberikan kompensasi paling besar?”

Tetapi:

“Apa resolution yang paling proporsional terhadap service failure?”

Jika compensation terlalu besar:

Cost ↑

dan dapat menciptakan:

Bad Incentive

Guest mungkin belajar:

Complaint = Compensation

Gunakan:

Recovery Matrix

berdasarkan severity dan authority.


15. Decision Making Saat Hotel Overbooked

Overbooking membutuhkan keputusan berdasarkan:

  • room availability;
  • arrival pattern;
  • guest profile;
  • loyalty status;
  • booking source;
  • rate;
  • stay length;
  • alternative hotel;
  • relocation cost.

Jangan hanya memilih:

“Guest terakhir yang booking.”

Gunakan:

Predefined Walk Policy

dan:

Escalation Authority.


16. Decision Making dalam Manpower Shortage

Jika satu staff tidak hadir:

Manager memiliki beberapa opsi:

A. Overtime

B. Shift Reallocation

C. Cross-Department Support

D. Temporary Task Reduction

E. Managerial Coverage

Keputusan berdasarkan:

Workload + Skill + Cost + Guest Impact

bukan:

“Yang penting ada orang.”


17. Decision Making dan Overtime

Overtime harus dipandang sebagai:

Cost Decision

bukan sekadar:

Attendance Issue

Manager perlu membandingkan:

OT Cost

vs

Service Failure Cost

Jika overtime Rp500 ribu mencegah:

Rp10 juta potential revenue/service loss

maka keputusan overtime mungkin rasional.

Namun jika overtime terjadi setiap minggu:

Problem-nya bukan OT.

Problem-nya:

Manpower Planning.


18. Decision Making dalam Pricing

Revenue Manager tidak hanya melihat:

Occupancy

Tetapi:

  • ADR;
  • RevPAR;
  • pickup;
  • pace;
  • competitor rate;
  • segment mix;
  • cancellation;
  • demand forecast.

Occupancy 95% belum tentu berarti:

Pricing Optimal.

Jika rate terlalu rendah:

Demand Capture Tinggi

tetapi:

Revenue Opportunity Loss.


19. Decision Making Harus Memahami Opportunity Cost

Setiap pilihan berarti:

Tidak memilih alternatif lain.

Contoh:

Hotel menggunakan 20 room untuk long-stay group.

Benefit:

Stable Occupancy

Opportunity cost:

Potential transient high-rate business

Manager harus bertanya:

“Apa yang kita korbankan ketika memilih opsi ini?”

Ini adalah:

Opportunity Cost Thinking.


20. Decision Making dan Department Conflict

Manager sering menerima:

Different Interests

Sales:

Revenue.

Operations:

Service feasibility.

Finance:

Cost control.

HR:

Manpower sustainability.

Keputusan GM tidak boleh hanya mengoptimalkan:

One Department

tetapi:

Hotel-Level Outcome.


21. Hindari Local Optimization

Contoh:

Housekeeping mengurangi manpower untuk menekan:

Labor Cost

tetapi akibatnya:

Room Readiness ↓

kemudian:

Guest Complaint ↑

dan:

Revenue Opportunity ↓

Department berhasil:

Cost Saving

tetapi hotel kehilangan:

Business Value

Decision making harus melihat:

System Impact.


22. Gunakan Hotel-Level Objective

Dalam keputusan lintas department, prioritaskan:

Guest Experience

  •  

Revenue

  •  

Profitability

  •  

Operational Stability

  •  

People Sustainability

Bobotnya dapat berbeda berdasarkan situasi.

Dalam crisis:

Safety > Revenue

Dalam peak season:

Guest Experience + Revenue + Operational Feasibility

Dalam cost pressure:

Profitability + Service Protection


23. Decision Making dan Risk Management

Setiap keputusan memiliki:

Probability

dan:

Impact

Risk:

Low Probability + Low Impact

dapat dikelola dengan monitoring.

Risk:

High Probability + High Impact

membutuhkan:

Immediate Mitigation

Gunakan:

Risk Matrix

untuk keputusan penting.


24. Jangan Menghindari Semua Risiko

Management bukan:

Risk Elimination

tetapi:

Risk Management

Jika hotel selalu menghindari risiko:

Innovation ↓

Opportunity ↓

Contoh:

Hotel ingin mencoba:

New Distribution Channel

Ada risk.

Tetapi dapat dikontrol melalui:

  • pilot project;
  • limited inventory;
  • contract review;
  • performance monitoring.

Jadi:

Controlled Risk

lebih baik daripada:

Blind Risk

atau:

Zero-Risk Illusion.


25. Decision Making di Bawah Ketidakpastian

Hotel tidak selalu memiliki informasi lengkap.

Misalnya:

Forecast menunjukkan:

80–90% occupancy

Manager harus tetap menentukan:

Manpower

sebelum angka final diketahui.

Gunakan:

Scenario Planning

Base Case

80%

Upside

90%

Downside

70%

Kemudian siapkan:

Trigger

untuk melakukan adjustment.


26. Gunakan If–Then Decision Rule

Contoh:

IF

pickup > threshold

THEN

increase staffing.

IF

occupancy forecast > 90%

THEN

activate additional roster.

IF

ADR falls below floor

THEN

review pricing.

Decision rule mengurangi:

Ad Hoc Decision

dan meningkatkan:

Consistency.


27. Decision Making untuk Manager Baru

Manager baru sering melakukan dua kesalahan:

Terlalu Cepat Mengubah Sistem

atau:

Terlalu Lama Tidak Mengubah Apa Pun

Gunakan:

Observe → Understand → Diagnose → Decide → Execute

Jangan mengubah:

Process

sebelum memahami:

Why It Exists.


28. Jangan Membuat Keputusan Berdasarkan Satu Kasus

Satu complaint:

Tidak otomatis menunjukkan systemic problem.

Satu staff error:

Tidak otomatis menunjukkan poor performance.

Satu hari revenue turun:

Tidak otomatis menunjukkan pricing failure.

Cari:

Pattern

Trend

Frequency

Variance

Keputusan lebih kuat jika didukung:

Repeated Evidence.


29. Hindari Recency Bias

Manager dapat terlalu dipengaruhi:

Recent Event

Contoh:

Employee memiliki performance bagus 11 bulan.

Pada bulan ke-12 terjadi error.

Manager lalu menganggap:

Overall Performance buruk.

Sebaliknya:

Employee memiliki masalah sepanjang tahun tetapi berhasil dalam satu project.

Manager memberikan:

Rating sangat tinggi.

Gunakan:

Full-Period Evidence.


30. Hindari Confirmation Bias

Jika manager sudah yakin:

“Vendor ini buruk.”

Ia akan mencari data yang mendukung pendapat tersebut.

Data negatif:

Notice

Data positif:

Ignore

Solusinya:

sebelum keputusan, tanyakan:

“Apa evidence yang dapat membuktikan bahwa asumsi saya salah?”

Ini meningkatkan:

Decision Quality.


31. Hindari Availability Bias

Kasus yang baru terjadi sering terasa:

lebih sering

daripada kenyataan.

Misalnya:

Kemarin terjadi guest complaint tentang breakfast.

Manager lalu menganggap:

“Breakfast selalu bermasalah.”

Padahal data tiga bulan menunjukkan:

Complaint Rate sangat rendah.

Gunakan:

Actual Frequency

bukan:

Memory.


32. Hindari Sunk Cost Fallacy

Hotel telah menghabiskan:

Rp500 juta

untuk sebuah sistem.

System tidak efektif.

Manager berpikir:

“Sayang kalau dihentikan.”

Rp500 juta tersebut adalah:

Sunk Cost

dan tidak boleh menjadi alasan utama untuk melanjutkan.

Pertanyaan yang benar:

“Jika kita belum mengeluarkan uang tersebut, apakah hari ini kita masih akan memilih sistem ini?”


33. Decision Making Harus Memiliki Decision Owner

Keputusan yang terlalu banyak orang miliki sering menghasilkan:

No Decision

Tentukan:

Decision Owner

dan:

Consulted Stakeholders

Gunakan prinsip:

Consultation ≠ Shared Accountability

Orang boleh memberikan input.

Tetapi harus jelas:

Siapa yang memutuskan?


34. Jangan Membuat Semua Keputusan Menjadi Committee Decision

Committee berguna untuk:

Complex + Cross-Functional Decisions

Tetapi tidak cocok untuk:

Routine + Time-Sensitive Decisions

Jika setiap keputusan harus:

Meeting → Discussion → Meeting → Approval

maka:

Decision Latency ↑

Gunakan:

Authority Matrix

agar keputusan dapat dibuat pada level yang tepat.


35. Delegation dan Decision Making

Delegasi yang baik meningkatkan:

Decision Speed

Manager dapat menetapkan:

Decision Boundary

Contoh:

Supervisor:

Guest recovery ≤ Rp500.000

Manager:

Rp500.001–Rp2.000.000

GM:

> Rp2.000.000

Angka hanya contoh.

Threshold harus disesuaikan dengan:

Hotel Policy + Risk + Position.


36. Decision Making dan Accountability

Setiap keputusan penting sebaiknya memiliki:

Decision Owner

Decision Date

Reason

Expected Outcome

Review Date

Ini tidak berarti semua keputusan harus menjadi dokumen panjang.

Untuk keputusan strategis, dokumentasi membantu:

Learning

dan:

Accountability.


37. Decision Log

Hotel dapat menggunakan:

Decision Reason Owner Expected Result Review
Adjust roster High occupancy FOM Service stable 7 days
Vendor change SLA failure Eng Downtime ↓ 30 days
Rate adjustment Demand increase RM ADR ↑ Weekly

Decision log berguna untuk:

Review

bukan:

Blame.


38. Decision Review

Setelah keputusan:

Did it work?

Bandingkan:

Expected

vs

Actual

Contoh:

Expected:

ADR +8%

Actual:

ADR +3%

Pertanyaan:

Why?

Bisa terjadi karena:

  • demand berubah;
  • competitor response;
  • pricing too aggressive;
  • segment mix;
  • external factor.

Decision review menghasilkan:

Learning Loop.


39. Good Decision ≠ Good Outcome

Ini sangat penting.

Keputusan dapat dibuat dengan:

Good Data + Good Process

tetapi hasilnya buruk karena:

External Event

Sebaliknya, keputusan buruk dapat menghasilkan:

Good Outcome by Luck.

Jadi evaluasi manager jangan hanya berdasarkan:

Outcome

tetapi juga:

Decision Quality

dan:

Process Quality.


40. Decision Quality Framework

Nilai keputusan berdasarkan:

1. Objective

Apakah tujuan jelas?

2. Information

Apakah data relevan tersedia?

3. Alternatives

Apakah alternatif dipertimbangkan?

4. Risk

Apakah downside diperhitungkan?

5. Authority

Apakah decision maker memiliki kewenangan?

6. Timing

Apakah keputusan dibuat tepat waktu?

7. Execution

Apakah implementasi terkendali?


41. Decision Making dan Communication

Keputusan yang benar dapat gagal karena:

Poor Communication

Setelah keputusan dibuat, jelaskan:

What

Apa yang berubah?

Why

Mengapa?

Who

Siapa yang bertanggung jawab?

When

Kapan berlaku?

How

Bagaimana implementasinya?

Komunikasi mengubah:

Decision → Execution


42. Jangan Mengubah Keputusan Tanpa Data Baru

Manager dapat berubah pikiran.

Itu bukan kelemahan.

Yang penting:

New Information

harus menjadi alasan.

Contoh:

“Berdasarkan forecast terbaru, demand berubah dari 75% menjadi 92%, sehingga manpower plan perlu disesuaikan.”

Ini:

Adaptive Decision Making

bukan:

Inconsistency.


43. Decision Making Saat Crisis

Dalam crisis, gunakan urutan:

Safety

People

Guest

Asset

Business Continuity

Contoh:

Fire incident.

Prioritas pertama:

Safety

bukan:

Revenue.

Urutan prioritas harus sudah diketahui sebelum crisis terjadi.


44. Decision Making dalam Emergency

Saat informasi terbatas:

Stabilize

Hentikan risiko langsung.

Assess

Identifikasi kondisi.

Assign

Tentukan PIC.

Act

Lakukan tindakan.

Communicate

Informasikan stakeholder.

Review

Evaluasi setelah situasi stabil.

Dalam kondisi emergency:

Speed + Clear Authority

sangat penting.


45. Decision Making dan Emotional Control

Manager dapat mengalami:

  • pressure;
  • anger;
  • fear;
  • frustration;
  • urgency.

Emosi adalah:

Data

tetapi bukan:

Decision Authority.

Contoh:

Manager merasa marah terhadap employee.

Jangan langsung:

Disciplinary Decision

Tanyakan:

Apa fakta?

Apa policy?

Apa impact?

Apa evidence?

Apa precedent?

Baru:

Decide.


46. Decision Making dan Precedent

Keputusan manager hari ini dapat menjadi:

Precedent

untuk kasus berikutnya.

Contoh:

Hari ini employee diberikan exception.

Besok employee lain meminta:

“Saya juga mau exception.”

Manager harus mempertimbangkan:

Consistency

Fairness

Policy

Business Reason

Jangan membuat exception tanpa alasan yang dapat dijelaskan.


47. Decision Making Harus Proporsional

Tidak semua masalah membutuhkan:

Maximum Response

Gunakan:

Problem Severity

  •  

Impact

  •  

Risk

  •  

Employee / Business Context

Contoh:

Minor error:

Coaching

Repeated issue:

Formal Performance Management

Serious misconduct:

Formal Investigation

Proporsionalitas menjaga:

Fairness + Control.


48. Decision Making dan Employee Management

Manager membuat keputusan terkait:

  • promotion;
  • schedule;
  • overtime;
  • training;
  • performance;
  • disciplinary action.

Semua memiliki:

People Impact

Karena itu gunakan:

Evidence + Consistent Criteria

bukan:

Personal Preference.


49. Decision Making Dashboard untuk Manager

Manager dapat memonitor:

Operational

  • occupancy;
  • room readiness;
  • service recovery;
  • complaints.

Commercial

  • ADR;
  • RevPAR;
  • pickup;
  • forecast.

Financial

  • revenue;
  • GOP;
  • labor cost;
  • budget variance.

People

  • absenteeism;
  • overtime;
  • productivity;
  • turnover.

Tujuannya bukan membuat manager melihat:

More Dashboards

tetapi membantu:

Faster Pattern Recognition.


50. Decision Making yang Efektif adalah Management Leverage

Manager hotel tidak mungkin menghilangkan:

Uncertainty

Pressure

Limited Resources

dan:

Unexpected Events

Tetapi manager dapat meningkatkan:

Decision Quality

melalui:

Clear Objective

Relevant Data

Alternatives

Risk Assessment

Decision

Execution

Review

Ini menciptakan:

Decision Learning Loop.


Framework DECIDE untuk Manager Hotel

Gunakan framework:

D — DEFINE

Apa masalah sebenarnya?

E — EVIDENCE

Apa data dan fakta yang tersedia?

C — CHOICES

Apa alternatif yang ada?

I — IMPACT

Apa dampak dan risiko masing-masing?

D — DECIDE

Siapa yang memiliki authority untuk memilih?

E — EVALUATE

Apa hasil aktual setelah keputusan?

DEFINE → EVIDENCE → CHOICES → IMPACT → DECIDE → EVALUATE

Framework ini membantu manager menghindari keputusan:

Reactive

dan bergerak menuju:

Structured Decision Making.


Checklist Decision Making Manager Hotel

Sebelum mengambil keputusan penting, tanyakan:

  • Apa masalah sebenarnya?

  • Apa data atau faktanya?

  • Apa yang masih berupa asumsi?

  • Apa objective-nya?

  • Apa alternatifnya?

  • Apa downside setiap alternatif?

  • Apa cost of inaction?

  • Apakah keputusan reversible?

  • Siapa decision owner?

  • Apakah authority cukup?

  • Siapa yang perlu dikonsultasikan?

  • Kapan keputusan harus dibuat?

  • Bagaimana keputusan dikomunikasikan?

  • Kapan hasilnya dievaluasi?

Jika jawabannya cukup jelas:

Decide.

Jangan terus menambah analisis hanya karena:

Takut mengambil keputusan.


Kesimpulan

Decision making adalah salah satu kompetensi paling penting bagi manager hotel karena hampir seluruh aktivitas management akhirnya bermuara pada:

Keputusan.

Manager harus mampu menentukan kapan:

Act Fast

dan kapan:

Analyze Deeply.

Keputusan yang baik tidak selalu menghasilkan outcome yang baik karena kondisi eksternal dapat berubah.

Karena itu manager perlu mengevaluasi bukan hanya:

“Apakah hasilnya bagus?”

tetapi:

“Apakah keputusan tersebut dibuat dengan proses yang baik berdasarkan informasi yang tersedia saat itu?”

Framework sederhana:

DEFINE → EVIDENCE → CHOICES → IMPACT → DECIDE → EVALUATE

Dengan pendekatan tersebut, decision making berubah dari:

Instinct → Structured Judgment

dan dari:

Reactive Management → Controlled Management

Pada akhirnya, manager hotel yang efektif bukan orang yang selalu memiliki jawaban paling cepat.

Ia adalah manager yang mampu:

membedakan fakta dari asumsi,

mengukur risiko,

memahami trade-off,

menentukan level authority,

dan:

mengambil keputusan tepat waktu ketika informasi belum sempurna.

Karena dalam hotel:

Tidak mengambil keputusan juga merupakan sebuah keputusan.

Bagikan Artikel

Bantu teman Anda temukan insight ini