Revenue Management Hotel

Cara Menghitung Profitabilitas Kamar Hotel

15 August 2026
Diperbarui 15 Aug 2026
8 menit baca
1 views
Cara Menghitung Profitabilitas Kamar Hotel

Dalam operasional hotel, kamar merupakan sumber revenue utama. Namun satu kamar yang terjual belum tentu memberikan contribution yang sama dengan kamar lainnya.

Cara Menghitung Profitabilitas Kamar Hotel

Kamar Terjual Tidak Sama dengan Kamar yang Menguntungkan

Dalam operasional hotel, kamar merupakan sumber revenue utama. Namun satu kamar yang terjual belum tentu memberikan contribution yang sama dengan kamar lainnya.

Kamar dengan ADR Rp1 juta melalui direct booking memiliki economic value berbeda dengan kamar yang sama-sama dijual Rp1 juta melalui OTA dengan commission 18%. Keduanya menghasilkan gross room revenue yang identik, tetapi net revenue setelah distribution cost berbeda.

Perbedaan semakin besar ketika hotel memberikan discount, complimentary breakfast, upgrade, atau benefit lain.

Karena itu, ketika manajemen bertanya apakah penjualan kamar sudah profitable, jawabannya tidak cukup dengan melihat ADR, occupancy, atau RevPAR.

Hotel perlu menghitung berapa revenue yang tersisa setelah biaya yang berhubungan langsung dengan kamar diperhitungkan.

Inilah dasar dari room profitability analysis.

 

Mulai dari Room Revenue

Perhitungan paling sederhana dimulai dari room revenue.

Formula dasarnya:

Room Revenue = Jumlah Kamar Terjual × ADR

Misalnya hotel menjual 1.000 room nights dengan ADR Rp900.000.

Maka:

1.000 × Rp900.000 = Rp900 juta

Angka Rp900 juta merupakan gross room revenue.

Namun angka tersebut belum dapat disebut profit.

Hotel masih memiliki distribution cost dan biaya operasional yang berkaitan dengan occupied room.

 

Pisahkan Gross Revenue dan Net Revenue

Misalnya dari Rp900 juta room revenue tersebut:

OTA commission = Rp135 juta
Payment fee dan distribution cost lainnya = Rp15 juta

Net revenue setelah distribution cost:

Rp900 juta – Rp150 juta = Rp750 juta

Ini sudah memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai economic value dari room sales.

Namun perhitungan masih belum selesai karena setiap kamar yang occupied menimbulkan variable cost.

 

Hitung Variable Cost per Occupied Room

Variable cost adalah biaya yang cenderung meningkat ketika jumlah kamar terjual bertambah.

Contohnya:

housekeeping supplies, laundry, amenities, guest supplies, linen processing, breakfast jika termasuk paket kamar, dan sebagian utility cost.

Misalnya variable room cost:

Rp150.000 per occupied room.

Dengan 1.000 kamar terjual:

1.000 × Rp150.000 = Rp150 juta

Jika net room revenue setelah distribution cost adalah Rp750 juta, contribution sebelum fixed operating expenses:

Rp750 juta – Rp150 juta = Rp600 juta.

Maka contribution per occupied room:

Rp600 juta ÷ 1.000 = Rp600.000.

Angka inilah yang jauh lebih relevan untuk membaca economic value setiap room night.

 

Formula Profitabilitas Kamar yang Praktis

Untuk analisis operasional, hotel dapat menggunakan pendekatan:

Room Contribution = ADR – Distribution Cost per Room – Variable Cost per Room

Misalnya:

ADR = Rp900.000
OTA commission = Rp135.000
Variable cost = Rp150.000

Maka:

Rp900.000 – Rp135.000 – Rp150.000 = Rp615.000

Artinya, setiap kamar menghasilkan sekitar Rp615.000 contribution sebelum fixed expenses dialokasikan.

Jika booking berasal dari direct channel tanpa OTA commission dan variable cost tetap Rp150.000:

Rp900.000 – Rp150.000 = Rp750.000.

Satu booking memberikan contribution Rp135.000 lebih tinggi.

Inilah alasan channel mix memiliki hubungan langsung dengan profitability.

 

Jangan Menganggap Semua Biaya Hotel sebagai Variable Cost

Kesalahan dalam menghitung profitabilitas kamar sering terjadi ketika seluruh biaya hotel dibagi rata ke setiap kamar.

Hotel memiliki fixed cost dan variable cost.

Fixed cost dapat mencakup biaya yang relatif tidak berubah dalam jangka pendek meskipun occupancy naik atau turun, seperti sebagian biaya property management, administrative expense, atau fixed contract tertentu.

Variable cost lebih berkaitan dengan volume occupied room.

Jika hotel menjual tambahan 100 kamar, tidak semua biaya hotel meningkat 100 kali lipat.

Karena itu, analisis room profitability perlu membedakan incremental cost dengan total hotel expenses.

 

Contoh Perhitungan Satu Kamar

Bayangkan sebuah hotel memiliki:

ADR = Rp1.000.000

Booking berasal dari OTA dengan commission 18%.

OTA commission:

Rp180.000

Variable room cost:

Rp175.000

Maka contribution:

Rp1.000.000 – Rp180.000 – Rp175.000 = Rp645.000

Room contribution margin:

Rp645.000 ÷ Rp1.000.000 × 100% = 64,5%

Artinya dari setiap Rp1 juta gross room revenue, sekitar Rp645.000 tersedia sebagai contribution sebelum fixed operating expenses.

Angka tersebut jauh lebih informatif daripada sekadar mengatakan ADR hotel adalah Rp1 juta.

 

Bandingkan Profitabilitas Berdasarkan Channel

Analisis yang sama dapat digunakan untuk membandingkan channel.

Misalnya:

Direct ADR = Rp900.000
OTA ADR = Rp1.000.000

OTA terlihat lebih baik karena ADR-nya lebih tinggi.

Namun:

Direct commission = Rp0
OTA commission = Rp180.000

Jika variable cost sama-sama Rp175.000:

Direct contribution:

Rp900.000 – Rp175.000 = Rp725.000

OTA contribution:

Rp1.000.000 – Rp180.000 – Rp175.000 = Rp645.000

ADR OTA lebih tinggi Rp100.000.

Namun contribution direct lebih tinggi Rp80.000.

Inilah contoh sederhana mengapa hotel tidak seharusnya mengevaluasi channel hanya berdasarkan ADR.

 

Discount Dapat Mengubah Profitabilitas secara Signifikan

Misalnya hotel memiliki BAR Rp1 juta.

Guest mendapatkan discount 20%.

Net selling rate:

Rp800.000.

Jika booking berasal dari OTA dengan commission 18%:

Commission:

Rp144.000

Variable cost:

Rp175.000

Contribution:

Rp800.000 – Rp144.000 – Rp175.000 = Rp481.000.

Bandingkan dengan direct booking Rp1 juta:

Rp1.000.000 – Rp175.000 = Rp825.000.

Hotel memberikan discount Rp200.000 sekaligus membayar distribution cost Rp144.000.

Economic impact-nya jauh lebih besar daripada sekadar potongan harga Rp200.000.

 

Occupancy Tetap Memengaruhi Profitability

Profitabilitas kamar tidak dapat dilepaskan dari occupancy.

Fixed cost hotel tetap harus dibayar meskipun kamar kosong.

Misalnya hotel memiliki 100 kamar.

Dalam satu hari tersedia:

100 room nights.

Jika occupancy 50%, hotel menjual 50 kamar.

Jika occupancy naik menjadi 70%, hotel menjual 70 kamar.

Sebagian fixed expenses tetap relatif sama.

Artinya, tambahan 20 room nights dapat menghasilkan incremental contribution yang cukup besar selama kamar tersebut dijual di atas variable cost.

Ini merupakan salah satu alasan mengapa incremental revenue pada low-demand period dapat memiliki economic value tinggi.

 

Namun Occupancy Tinggi Juga Memiliki Batas

Ketika occupancy sudah tinggi, tambahan room night tidak selalu memberikan economic value yang sama.

Hotel dapat mengalami:

overtime housekeeping, tambahan laundry, utility consumption, breakfast congestion, maintenance pressure, dan kebutuhan tenaga kerja tambahan.

Pada saat yang sama, high-demand room night memiliki opportunity cost lebih tinggi.

Jika hotel menjual kamar Rp700.000 pada tanggal ketika transient demand bersedia membayar Rp1,3 juta, contribution yang hilang bukan hanya Rp700.000.

Ada displacement cost.

Karena itu, profitability analysis harus dikombinasikan dengan demand forecast.

 

Profitabilitas Kamar pada Group Booking

Group booking membutuhkan analisis yang lebih hati-hati.

Misalnya group rate:

Rp750.000

Hotel memberikan:

10% complimentary room.

Jika setiap 10 kamar yang dibayar menghasilkan 1 complimentary room, effective revenue per consumed room menjadi lebih rendah.

Hotel juga mungkin memberikan:

breakfast, meeting room, welcome drink, late checkout, atau benefit lain.

Semua concession harus dimasukkan ke economic calculation.

Jika group memberikan F&B revenue yang tinggi, contribution dari ancillary business dapat menutup room-rate concession.

Jika tidak, hotel perlu mengevaluasi kembali group rate.

 

Gunakan Contribution, Bukan Sekadar Profit Accounting

Untuk keputusan harian Revenue Management, contribution sering lebih berguna daripada final accounting profit.

Mengapa?

Karena keputusan pricing biasanya berkaitan dengan:

"Apakah kita menerima booking ini?"

Untuk menjawabnya, hotel perlu mengetahui berapa incremental revenue dan incremental cost yang muncul.

Fixed expenses tidak selalu berubah ketika satu kamar tambahan terjual.

Karena itu, contribution margin dapat membantu Revenue Manager menentukan apakah sebuah booking layak diterima.

Sedangkan Finance tetap menggunakan full P&L untuk mengevaluasi profitability hotel secara keseluruhan.

Keduanya memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

 

Hubungkan Room Profitability dengan RevPAR

RevPAR membantu melihat revenue per available room.

Formula:

RevPAR = Occupancy × ADR

Misalnya:

Occupancy = 75%
ADR = Rp1 juta

RevPAR:

Rp750.000

Namun RevPAR belum memperhitungkan distribution cost dan variable cost.

Hotel dapat melengkapinya dengan profitability metrics.

Salah satu indikator yang relevan adalah GOPPAR, yaitu Gross Operating Profit per Available Room.

Pendekatan ini membantu manajemen melihat seberapa besar operating profit yang dihasilkan relatif terhadap inventory kamar yang tersedia.

Dengan begitu, pembahasan bergeser dari:

"Berapa revenue per available room?"

menjadi:

"Berapa operating contribution yang dihasilkan dari available room tersebut?"

 

Buat Room Profitability Berdasarkan Segment

Segment yang berbeda dapat menghasilkan contribution yang berbeda.

Contohnya:

Direct Leisure
Corporate
OTA
Wholesale
Group
Long Stay

Corporate mungkin memiliki ADR lebih rendah tetapi cancellation rendah.

OTA mungkin memiliki ADR lebih tinggi tetapi commission besar.

Group mungkin memiliki room rate rendah tetapi F&B revenue tinggi.

Long stay mungkin memiliki ADR rendah tetapi operational turnover lebih kecil.

Karena itu, hotel sebaiknya membuat profitability analysis berdasarkan segment, bukan hanya total hotel.

 

Gunakan Data untuk Menentukan Minimum Rate

Room profitability juga dapat membantu hotel menentukan rate floor.

Misalnya:

Variable cost = Rp175.000
Distribution cost = 18%

Hotel tidak dapat memperlakukan Rp175.000 sebagai satu-satunya batas harga karena distribution cost berubah mengikuti rate.

Jika hotel memiliki target minimum contribution Rp500.000, maka minimum selling rate perlu dihitung dengan memasukkan channel cost.

Dengan pendekatan tersebut, Revenue Manager memiliki dasar yang lebih kuat ketika menentukan:

discount rate, promotional rate, corporate rate, group rate, dan tactical offer.

Harga tidak lagi sekadar mengikuti competitor.

Harga harus tetap menghasilkan economic contribution yang dapat diterima.

 

Tiga Insight untuk Manajemen Hotel

Pertama, ADR bukan profit. Harga kamar yang tinggi belum tentu menghasilkan contribution tinggi jika acquisition cost dan variable cost juga besar.

Kedua, channel mix memiliki dampak langsung terhadap room profitability. Direct booking dengan ADR lebih rendah dapat menghasilkan contribution lebih tinggi daripada OTA dengan ADR lebih tinggi setelah commission diperhitungkan.

Ketiga, profitability harus dibaca berdasarkan demand. Rate yang profitable pada low season belum tentu optimal ketika demand tinggi karena inventory memiliki opportunity cost yang lebih besar.

 

Penutup

Menghitung profitabilitas kamar hotel membutuhkan cara pandang yang sedikit berbeda dari sekadar menghitung room revenue.

Hotel perlu mengetahui:

ADR → Distribution Cost → Variable Cost → Contribution → Profitability.

Dari sini manajemen dapat melihat kamar mana yang benar-benar memberikan economic value, channel mana yang paling sehat, segment mana yang layak diprioritaskan, dan discount mana yang justru menggerus margin.

Bagi Revenue Manager, analisis ini membantu mengubah keputusan dari sekadar "berapa kamar yang bisa kita jual?" menjadi "pada harga dan channel apa kamar tersebut menghasilkan contribution terbaik?"

Bagi owner, perspektif tersebut memberikan gambaran yang lebih dekat dengan tujuan sebenarnya dari revenue management: bukan sekadar menjual inventory, tetapi mengonversi inventory hotel menjadi profit secara optimal.

 

Bagikan Artikel

Bantu teman Anda temukan insight ini