Tips Operasional hotel

Cara Menentukan Jumlah Room Attendant yang Ideal

07 August 2026
Diperbarui 12 Aug 2026
8 menit baca
4 views
Cara Menentukan Jumlah Room Attendant yang Ideal

Hotel tidak membutuhkan housekeeping dengan jumlah orang sebanyak mungkin. Yang dibutuhkan adalah jumlah room attendant yang tepat untuk menghasilkan kamar yang siap dijual, dalam waktu yang dibutuhkan, dengan kualitas yang konsisten dan biaya yang masih masuk akal.

Ketika housekeeping mulai kewalahan, solusi yang paling mudah muncul biasanya adalah menambah room attendant. Jumlah kamar yang belum selesai meningkat, supervisor mulai mengejar target room readiness, overtime bertambah, lalu manajemen menyimpulkan bahwa jumlah tenaga kerja tidak mencukupi. Padahal, kondisi tersebut belum tentu berarti hotel benar-benar kekurangan manpower. Bisa saja workload tidak terdistribusi dengan baik, target produktivitas terlalu tinggi, atau perhitungan kebutuhan tenaga kerja memang sejak awal menggunakan asumsi yang kurang tepat.

Menentukan jumlah room attendant ideal tidak cukup dengan membagi jumlah kamar hotel dengan jumlah tenaga kerja. Hotel dengan 100 kamar dapat memiliki kebutuhan manpower yang berbeda dengan hotel lain yang memiliki 100 kamar. Perbedaan tersebut dapat muncul dari occupancy, jumlah checkout, proporsi stayover, tipe kamar, luas kamar, layout hotel, standar kebersihan, hingga waktu yang dibutuhkan untuk membuat kamar kembali ready.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan "berapa room attendant untuk sekian kamar?", melainkan berapa workload yang harus diselesaikan dan berapa kapasitas kerja yang tersedia untuk menyelesaikannya?

Jumlah Kamar Bukan Ukuran Workload

Angka jumlah kamar hanya menunjukkan ukuran inventory hotel. Angka tersebut belum menjelaskan berapa banyak pekerjaan housekeeping yang harus dilakukan pada hari tertentu.

Hotel dengan occupancy 90% misalnya, belum tentu memiliki workload yang sama setiap hari. Pada satu hari, sebagian besar tamu mungkin melakukan stayover sehingga kebutuhan cleaning relatif lebih ringan. Pada hari lain, jumlah checkout bisa melonjak dan hampir seluruh kamar membutuhkan full cleaning sebelum arrival berikutnya.

Karena itu, manajemen perlu melihat room movement sebagai bagian dari manpower planning. Data yang perlu diperhatikan setidaknya mencakup:

  1. Expected checkout untuk mengetahui jumlah kamar yang membutuhkan turnover cleaning.
  2. Stayover room untuk memperkirakan workload servicing selama tamu masih menginap.
  3. Expected arrival untuk melihat tekanan terhadap room readiness.
  4. Room type karena standard room, deluxe, dan suite tidak selalu membutuhkan waktu pengerjaan yang sama.
  5. Special request seperti extra bed, baby cot, connecting room setup, atau permintaan khusus lainnya.
  6. Out of Order atau Out of Service room yang mengurangi inventory aktif tetapi tetap dapat memengaruhi distribusi workload.

Data tersebut memberikan gambaran yang lebih dekat dengan kondisi lapangan dibandingkan sekadar melihat occupancy.

Hitung Workload Sebelum Menghitung Orang

Setelah room movement diketahui, manajemen dapat mulai menghitung estimasi workload.

Misalnya, sebuah hotel memiliki 30 checkout room dengan rata-rata waktu pengerjaan 30 menit per kamar. Secara sederhana, kebutuhan waktu cleaning untuk kelompok tersebut mencapai sekitar 900 menit. Jika terdapat 40 stayover room dengan rata-rata workload 15 menit, tambahan kebutuhan waktunya sekitar 600 menit.

Artinya, workload cleaning yang terlihat dari dua kategori tersebut sudah mencapai sekitar 1.500 menit. Angka ini belum memasukkan perjalanan antar kamar, pengambilan linen, restocking amenities, permintaan tamu, komunikasi dengan supervisor, serta pekerjaan lain yang muncul selama shift. Pendekatan sederhana ini jauh lebih berguna untuk manpower planning karena manajemen mulai melihat beban pekerjaan, bukan hanya jumlah kamar.

Rumus praktis yang dapat digunakan sebagai titik awal adalah:

Total Workload = Jumlah Kamar × Rata-rata Waktu Pengerjaan

Setelah itu, total workload dibandingkan dengan productive working time room attendant yang tersedia.

Delapan Jam Shift Bukan Berarti Delapan Jam Cleaning

Salah satu kesalahan dalam perhitungan manpower adalah menganggap seluruh waktu shift sebagai waktu produktif untuk membersihkan kamar.

Room attendant memiliki aktivitas lain di luar cleaning. Mereka perlu mengikuti briefing, mengambil linen dan amenities, berpindah dari satu kamar ke kamar lain, menangani permintaan tamu, berkomunikasi dengan supervisor, hingga melakukan pekerjaan tambahan ketika menemukan kondisi kamar yang tidak normal. Karena itu, kapasitas kerja sebaiknya dihitung menggunakan waktu produktif yang realistis.

Jika room attendant memiliki shift delapan jam, bukan berarti delapan jam tersebut dapat dikonversikan seluruhnya menjadi cleaning time. Ada waktu yang memang dibutuhkan agar operasional dapat berjalan. Perhitungan yang terlalu agresif dapat membuat target terlihat efisien di atas kertas, tetapi menghasilkan overtime, kualitas cleaning yang menurun, dan re-cleaning di lapangan.

Tipe Kamar Bisa Mengubah Kebutuhan Manpower

Tidak semua kamar memiliki tingkat kesulitan yang sama.

Suite membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan standard room. Connecting room dapat membutuhkan pekerjaan tambahan. Kamar dengan extra bed memiliki setup berbeda. Bahkan kamar standard dengan kondisi sangat berat setelah checkout dapat membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kamar yang kondisinya relatif ringan.

Karena itu, hotel dapat menggunakan workload weighting untuk memberikan bobot berbeda pada setiap kategori kamar.

Contohnya, daripada menghitung satu kamar sebagai satu unit workload, manajemen dapat menggunakan bobot berdasarkan tipe dan tingkat kesulitan. Tujuannya bukan membuat perhitungan semakin rumit, tetapi menghindari perbandingan yang tidak adil antar-room attendant. Room attendant yang menyelesaikan lebih sedikit kamar belum tentu kurang produktif jika kamar yang ditangani memiliki workload jauh lebih besar.

Produktivitas Tidak Boleh Dipisahkan dari Kualitas

Target jumlah kamar yang terlalu tinggi dapat membuat angka produktivitas terlihat bagus sekaligus menciptakan masalah baru. Room attendant mungkin mampu menyelesaikan lebih banyak kamar, tetapi jika supervisor menemukan semakin banyak kesalahan saat inspection, hotel sebenarnya sedang memindahkan biaya dari cleaning ke re-cleaning.

Karena itu, beberapa indikator sebaiknya dibaca secara bersamaan:

  • Room attendant productivity
  • Average cleaning time
  • Room inspection pass rate
  • Re-cleaning rate
  • Overtime
  • Room readiness time
  • Guest complaint terkait kebersihan

Jika jumlah kamar per room attendant naik tetapi overtime, re-cleaning, dan complaint ikut meningkat, manajemen perlu mengevaluasi kembali apakah target tersebut memang produktif. Produktivitas yang sehat menghasilkan kamar yang selesai tepat waktu dan memenuhi standar, bukan sekadar kamar yang lebih banyak.

Occupancy Tinggi Membutuhkan Strategi Berbeda

Manpower yang cukup pada occupancy 70% belum tentu cukup ketika hotel mencapai 95%. Perubahan tersebut menjadi lebih signifikan ketika occupancy tinggi disertai jumlah checkout yang besar dan arrival dalam periode yang berdekatan. Pada kondisi seperti ini, tekanan terhadap room readiness meningkat karena kamar harus kembali siap dijual dalam waktu terbatas.

Manajemen dapat membuat beberapa skenario manpower:

Low occupancy
Workload rendah dan roster dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Normal occupancy
Manpower berada pada kondisi operasional standar.

High occupancy
Workload meningkat dan roster perlu disiapkan dengan kapasitas lebih tinggi.

Peak period
Hotel dapat mempertimbangkan daily worker, part-time staff, outsourcing, atau penyesuaian shift sesuai forecast.

Pendekatan ini lebih efisien daripada mempertahankan manpower maksimum sepanjang tahun hanya karena hotel memiliki beberapa periode peak season.

Gunakan Data Historis untuk Menemukan Titik Kritis

Keputusan menambah room attendant sebaiknya tidak hanya berdasarkan perasaan bahwa tim sedang terlalu sibuk. Data historis dapat menunjukkan kapan kapasitas manpower mulai tidak mencukupi.

Manajemen dapat membandingkan occupancy dengan beberapa indikator berikut:

  1. Jumlah checkout per hari.
  2. Jumlah room attendant yang hadir.
  3. Average cleaning time.
  4. Jumlah kamar yang selesai per shift.
  5. Overtime housekeeping.
  6. Re-cleaning.
  7. Room readiness.
  8. Complaint kebersihan.

Misalnya, hotel menemukan bahwa setiap kali occupancy melewati 90% dan checkout mencapai jumlah tertentu, overtime meningkat tajam dan room readiness mulai terlambat. Pola tersebut dapat menjadi dasar yang lebih kuat untuk menentukan kebutuhan manpower tambahan. Dengan kata lain, hotel tidak hanya mengetahui berapa orang yang dibutuhkan, tetapi juga kapan orang tambahan tersebut dibutuhkan.

Absenteeism Bisa Mengubah Perhitungan Harian

Jumlah room attendant dalam roster belum tentu sama dengan jumlah orang yang benar-benar bekerja pada hari tersebut. Cuti, sakit, izin, training, atau perubahan jadwal dapat membuat manpower aktual lebih rendah dari manpower yang direncanakan. Karena itu, supervisor perlu melakukan manpower check sebelum pekerjaan dimulai. Yang perlu dilihat bukan hanya "berapa orang yang ada", tetapi apakah jumlah tersebut sebanding dengan workload hari itu.

Jika expected checkout tinggi sementara manpower aktual turun karena absenteeism, distribusi kamar perlu segera disesuaikan. Beberapa hotel juga menggunakan cross-training atau tenaga tambahan untuk menghadapi kondisi tertentu.

Jangan Langsung Menambah Headcount

Ketika workload tinggi, penambahan tenaga kerja memang bisa menjadi solusi. Namun sebelum mengambil keputusan, manajemen perlu melihat apakah ada bottleneck lain yang membuat produktivitas turun. Misalnya:

  • Linen terlambat tersedia.
  • Housekeeping trolley tidak siap.
  • Room assignment tidak seimbang.
  • Supervisor terlambat melakukan inspection.
  • Chemical atau equipment tidak memadai.
  • Jarak antar kamar terlalu jauh.
  • Proses komunikasi masih terlalu manual.

Jika akar masalah berada pada salah satu faktor tersebut, menambah room attendant hanya akan menambah biaya tanpa menyelesaikan sumber inefisiensi. Manpower planning seharusnya berjalan bersama evaluasi proses.

Tiga Hal yang Perlu Diperhatikan Manajemen

1. Hitung berdasarkan workload
Gunakan checkout, stayover, room type, occupancy, dan special request sebagai dasar. Jumlah kamar hotel hanya menunjukkan ukuran inventory, bukan workload harian.

2. Gunakan productive working time
Jangan menganggap seluruh jam shift sebagai waktu cleaning. Masukkan waktu briefing, perjalanan, restocking, komunikasi, dan aktivitas operasional lainnya.

3. Validasi dengan kualitas dan biaya
Bandingkan productivity dengan overtime, re-cleaning, inspection result, complaint, dan room readiness. Jika produktivitas naik tetapi biaya dan masalah kualitas ikut meningkat, angka tersebut belum tentu menunjukkan efisiensi.

Teknologi Membantu Mengubah Manpower Planning Menjadi Lebih Terukur

PMS dan housekeeping management system dapat menyediakan data yang dibutuhkan untuk membuat forecast workload. Expected arrival, expected departure, room status, occupancy, room type, dan historical productivity dapat dikombinasikan untuk memperkirakan kebutuhan manpower sebelum shift dimulai.

Supervisor juga dapat melihat kondisi aktual ketika terjadi perubahan. Jika beberapa room attendant tidak hadir atau jumlah checkout berubah, distribusi workload dapat disesuaikan lebih cepat. Namun teknologi tidak menggantikan analisis manajemen. Sistem hanya menyediakan data. Hotel tetap perlu menentukan standar cleaning time, workload weighting, productive working time, dan indikator kualitas yang digunakan sebagai dasar keputusan.

Menentukan jumlah room attendant ideal bukan persoalan mencari satu rasio yang berlaku untuk semua hotel. Dua properti dengan jumlah kamar yang sama dapat membutuhkan manpower berbeda karena memiliki karakter operasional yang berbeda.

Occupancy, room movement, tipe kamar, layout, standar cleaning, productive working time, kualitas hasil, hingga pola kedatangan tamu semuanya memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Karena itu, perhitungan sebaiknya dimulai dari workload kemudian dibandingkan dengan kapasitas kerja aktual. Dari sana manajemen dapat mengetahui apakah manpower saat ini memang kurang, apakah distribusi pekerjaan yang perlu diperbaiki, atau justru ada proses lain yang menjadi sumber bottleneck.

Hotel tidak membutuhkan housekeeping dengan jumlah orang sebanyak mungkin. Hotel membutuhkan jumlah room attendant yang tepat untuk menghasilkan kamar yang siap dijual, dalam waktu yang dibutuhkan, dengan kualitas yang konsisten dan biaya yang masih masuk akal.

 

 

Bagikan Artikel

Bantu teman Anda temukan insight ini