Revenue Management Hotel

Biaya Akuisisi Booking dan Pengaruhnya terhadap Revenue

15 August 2026
Diperbarui 15 Aug 2026
9 menit baca
1 views
Biaya Akuisisi Booking dan Pengaruhnya terhadap Revenue

Biaya akuisisi booking adalah seluruh biaya yang dikeluarkan hotel untuk mendapatkan satu transaksi atau satu customer booking. Dalam industri hospitality, bentuknya dapat berupa:komisi OTA, commission travel agent, wholesaler margin, biaya digital advertising, affiliate fee, loyalty incentive, payment fee, promotional discount, dan biaya distribusi lainnya.

Biaya Akuisisi Booking dan Pengaruhnya terhadap Revenue

Revenue yang Masuk Tidak Selalu Sama dengan Revenue yang Tersisa

Hotel dapat mencatat peningkatan room revenue tanpa mengalami peningkatan economic value yang sebanding.

Salah satu penyebabnya adalah biaya akuisisi booking.

Sebuah kamar terjual Rp1 juta melalui OTA terlihat menghasilkan revenue Rp1 juta. Namun jika channel tersebut mengenakan commission 18%, hotel hanya mempertahankan sekitar Rp820.000 sebelum biaya operasional kamar diperhitungkan.

Situasinya berbeda ketika kamar yang sama dijual melalui direct booking dengan biaya distribusi yang jauh lebih rendah.

Dari sisi laporan penjualan, kedua transaksi sama-sama menghasilkan Rp1 juta.

Dari sisi profitability, nilainya berbeda.

Inilah mengapa hotel perlu melihat revenue bukan hanya dari berapa banyak booking yang berhasil diperoleh, tetapi juga berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan booking tersebut.

 

Apa yang Dimaksud Biaya Akuisisi Booking?

Biaya akuisisi booking adalah seluruh biaya yang dikeluarkan hotel untuk mendapatkan satu transaksi atau satu customer booking.

Dalam industri hospitality, bentuknya dapat berupa:

komisi OTA, commission travel agent, wholesaler margin, biaya digital advertising, affiliate fee, loyalty incentive, payment fee, promotional discount, dan biaya distribusi lainnya.

Tidak semua channel menggunakan model biaya yang sama.

OTA umumnya menggunakan commission.

Direct booking dapat membutuhkan biaya website, payment gateway, CRM, digital advertising, atau loyalty program.

Corporate account dapat memiliki acquisition cost dalam bentuk sales visit, account management, contract negotiation, atau negotiated rate.

Karena itu, hotel perlu melihat total acquisition cost, bukan hanya commission.

 

Gross Revenue dan Net Revenue Harus Dipisahkan

Misalnya hotel menghasilkan:

Room Revenue = Rp1 miliar

Dari revenue tersebut:

OTA commission = Rp180 juta
Digital promotion = Rp20 juta
Payment fee = Rp10 juta

Total acquisition dan distribution cost:

Rp210 juta

Net revenue setelah acquisition cost:

Rp790 juta

Jika manajemen hanya melihat gross room revenue, channel tersebut terlihat sangat produktif.

Namun setelah biaya mendapatkan booking diperhitungkan, nilai ekonominya jauh lebih rendah.

Perbedaan inilah yang sering tidak terlihat dalam laporan revenue harian.

 

OTA Tidak Selalu Buruk

Pembahasan mengenai acquisition cost sering membuat OTA dianggap sebagai channel yang harus dikurangi sebanyak mungkin.

Pendekatan tersebut terlalu sederhana.

OTA memiliki fungsi penting dalam mendatangkan demand yang mungkin sulit diperoleh hotel secara direct.

Hotel baru, hotel dengan brand awareness rendah, atau hotel yang memasuki market baru dapat memperoleh exposure melalui OTA yang tidak mudah dibangun secara organik.

Masalahnya bukan:

"Berapa besar commission OTA?"

Pertanyaan yang lebih relevan:

"Apakah revenue incremental yang diperoleh melalui OTA cukup untuk membayar acquisition cost tersebut?"

Jika hotel memiliki banyak inventory kosong pada low-demand period, membayar commission untuk mendapatkan incremental demand dapat tetap masuk akal.

 

Acquisition Cost Harus Dibaca Berdasarkan Demand

Nilai acquisition cost berubah sesuai kondisi demand.

Misalnya hotel memiliki 100 kamar.

Pada weekday tertentu, forecast menunjukkan occupancy hanya 45%.

Hotel memperoleh booking melalui OTA dengan commission 18%.

Jika booking tersebut mengisi kamar yang sebelumnya kemungkinan besar kosong, commission tersebut merupakan cost untuk menghasilkan incremental revenue.

Namun pada tanggal yang sama ketika forecast occupancy mencapai 95%, hotel mungkin tidak membutuhkan demand tambahan dari OTA.

Membayar commission untuk booking yang sebenarnya dapat diperoleh melalui direct atau higher-rated segment menjadi kurang menarik.

Artinya, channel cost harus dipertimbangkan bersama demand forecast.

 

Booking yang Sama Bisa Memiliki Economic Value Berbeda

Bayangkan tiga booking:

Direct Booking

ADR = Rp1.000.000
Acquisition cost = Rp50.000

OTA

ADR = Rp1.100.000
Commission = 18%

Corporate

ADR = Rp900.000
Acquisition cost = Rp30.000

Perhitungan sederhananya:

Direct:

Rp1.000.000 – Rp50.000 = Rp950.000

OTA:

Rp1.100.000 – Rp198.000 = Rp902.000

Corporate:

Rp900.000 – Rp30.000 = Rp870.000

OTA menghasilkan ADR paling tinggi.

Namun direct booking menghasilkan net revenue tertinggi.

Jika variable cost kamar kemudian diperhitungkan, perbedaan contribution bisa semakin besar.

 

Jangan Hanya Mengukur Cost per Booking

Hotel dapat menghitung:

Customer Acquisition Cost (CAC) = Total Acquisition Cost ÷ Jumlah Booking

Misalnya hotel mengeluarkan Rp50 juta untuk digital marketing dan menghasilkan 500 booking.

CAC:

Rp50 juta ÷ 500 = Rp100.000 per booking.

Namun angka tersebut belum cukup.

Satu booking dapat bernilai:

1 room night

atau:

5 room nights.

Hotel yang menghasilkan booking lebih sedikit tetapi dengan average length of stay lebih tinggi bisa memiliki acquisition economics yang lebih baik.

Karena itu, analisis sebaiknya juga melihat:

Acquisition Cost per Room Night

bukan hanya cost per booking.

 

Contoh Acquisition Cost per Room Night

Hotel mengeluarkan:

Rp100.000 acquisition cost per booking.

Booking A:

1 room night.

Acquisition cost per room night = Rp100.000

Booking B:

4 room nights.

Acquisition cost per room night:

Rp25.000

Customer acquisition cost-nya sama.

Tetapi economic value booking berbeda.

Ini menjadi sangat relevan bagi hotel dengan guest segment yang memiliki perbedaan Length of Stay.

 

Commission dan Discount Harus Dihitung Bersama

Biaya acquisition sering lebih besar daripada commission.

Misalnya hotel memberikan:

BAR = Rp1.000.000

Promo OTA:

discount = 15%

Selling rate:

Rp850.000

Commission 18%:

Rp153.000

Net revenue:

Rp697.000

Hotel sebenarnya kehilangan Rp303.000 dari potential BAR sebelum biaya operasional kamar.

Economic impact-nya berasal dari dua sumber:

Discount = Rp150.000

Commission = Rp153.000

Jika keduanya tidak dihitung bersama, management dapat salah menilai profitability promotion.

 

Direct Booking Juga Memiliki Acquisition Cost

Direct booking bukan berarti gratis.

Hotel mungkin mengeluarkan biaya untuk:

Google Ads, Meta Ads, SEO, website maintenance, booking engine, payment gateway, CRM, email marketing, loyalty program, content production, dan sales activities.

Misalnya hotel menghabiskan Rp30 juta untuk digital marketing dan memperoleh 300 direct booking.

Acquisition cost:

Rp100.000 per booking.

Jika rata-rata booking menghasilkan tiga room nights:

CAC per room night:

Rp33.333.

Angka ini dapat jauh lebih rendah dibandingkan commission OTA.

Namun hotel tetap harus menghitung biaya teknologi, payment processing, loyalty benefit, dan biaya marketing lainnya.

 

Perhatikan Incremental Revenue

Acquisition cost menjadi menarik ketika menghasilkan incremental revenue.

Misalnya hotel mengeluarkan Rp20 juta untuk campaign tertentu.

Campaign menghasilkan tambahan room revenue Rp150 juta.

Secara gross, hasilnya terlihat sangat positif.

Tetapi hotel harus bertanya:

Berapa booking yang benar-benar incremental?

Apakah sebagian customer sebenarnya akan booking tanpa campaign?

Apakah discount diberikan kepada customer yang sudah memiliki purchase intent tinggi?

Jika campaign hanya memindahkan customer dari channel lain ke channel yang lebih mahal, revenue terlihat bertambah tetapi economic value tidak bertambah secara proporsional.

 

Direct Booking dan OTA Bisa Saling Berhubungan

Hotel tidak boleh melihat channel secara terlalu terpisah.

Guest dapat menemukan hotel melalui OTA lalu kemudian melakukan booking direct.

Atau sebaliknya, guest melihat iklan hotel di Google lalu membandingkan harga melalui OTA.

Customer journey dapat melewati beberapa channel sebelum menghasilkan transaksi.

Karena itu, attribution menjadi semakin kompleks.

Hotel perlu melihat channel berdasarkan fungsi:

Discovery → Consideration → Conversion → Repeat Booking

OTA mungkin sangat kuat pada tahap discovery.

Direct booking mungkin lebih kuat pada repeat conversion.

Loyalty dan CRM kemudian dapat mengurangi acquisition cost pada booking berikutnya.

 

Repeat Guest Mengubah Economics

Booking pertama dapat memiliki acquisition cost relatif tinggi.

Hotel mungkin membayar:

digital advertising, OTA commission, discount, atau sales effort.

Tetapi jika guest tersebut kembali secara direct pada tahun berikutnya, acquisition cost tambahan bisa jauh lebih rendah.

Misalnya:

Booking pertama melalui OTA:

ADR = Rp1 juta
Commission = Rp180.000

Guest kemudian menjadi repeat guest dan melakukan direct booking:

ADR = Rp1 juta
Acquisition cost = Rp50.000

Hotel berhasil meningkatkan customer lifetime value tanpa harus terus membayar acquisition cost OTA.

Di sinilah CRM dan loyalty memiliki hubungan langsung dengan revenue profitability.

 

Gunakan Net ADR untuk Membandingkan Channel

Hotel dapat menggunakan konsep sederhana:

Net ADR = Gross ADR – Acquisition Cost per Room Night

Misalnya:

OTA ADR = Rp1.100.000
Commission = Rp198.000

Net ADR:

Rp902.000

Direct ADR:

Rp1.000.000
Acquisition cost = Rp50.000

Net ADR:

Rp950.000

Dari perspektif gross ADR, OTA lebih tinggi.

Dari perspektif net ADR, direct lebih tinggi.

Perbandingan seperti ini jauh lebih berguna untuk channel strategy.

 

Acquisition Cost Mempengaruhi Strategi Pricing

Jika hotel memahami acquisition cost masing-masing channel, pricing strategy dapat dibuat lebih rasional.

Misalnya hotel mengetahui bahwa:

OTA memiliki commission tinggi.

Direct memiliki acquisition cost rendah.

Corporate memiliki negotiated rate.

Group memiliki rate rendah tetapi ancillary revenue tinggi.

Maka hotel tidak harus memberikan harga yang sama kepada seluruh channel.

Hotel dapat menentukan rate berdasarkan net economic value, bukan hanya parity secara nominal.

Namun struktur harga tetap harus mempertimbangkan channel agreement dan market positioning.

 

Jangan Mengejar Booking Murah dengan Mengorbankan Margin

Promosi yang menghasilkan ribuan booking terlihat sukses.

Tetapi jika setiap booking memiliki contribution rendah, pertumbuhan tersebut dapat menciptakan revenue yang kurang berkualitas.

Contoh:

Campaign A menghasilkan 1.000 booking dengan contribution Rp200.000 per room night.

Campaign B menghasilkan 600 booking dengan contribution Rp400.000.

Contribution:

Campaign A = Rp200 juta

Campaign B = Rp240 juta

Campaign B menghasilkan booking lebih sedikit tetapi contribution lebih besar.

Ini menunjukkan bahwa volume booking bukan satu-satunya ukuran keberhasilan acquisition strategy.

 

Gunakan Channel Profitability untuk Keputusan Management

Hotel dapat membuat evaluasi channel secara berkala berdasarkan:

gross room revenue, acquisition cost, net revenue, room nights, ADR, net ADR, cancellation, length of stay, ancillary spend, dan contribution.

Dengan data tersebut, management dapat mengetahui:

channel mana yang paling efisien,

channel mana yang menghasilkan volume terbesar,

channel mana yang memberikan net revenue terbaik,

dan channel mana yang sebaiknya dikurangi ketika demand meningkat.

Pendekatan ini membuat distribution strategy lebih dinamis.

 

Tiga Insight untuk Manajemen Hotel

Pertama, booking tidak boleh dinilai hanya dari gross revenue. Acquisition cost menentukan berapa banyak revenue yang benar-benar tersisa setelah transaksi diperoleh.

Kedua, OTA tidak otomatis menjadi channel yang buruk. Commission dapat menjadi economic cost yang rasional ketika OTA menghasilkan incremental demand, terutama pada periode low demand. Masalah muncul ketika hotel membayar acquisition cost untuk demand yang sebenarnya bisa diperoleh dengan biaya lebih rendah.

Ketiga, direct booking memiliki strategic value yang lebih panjang. Selain acquisition cost yang berpotensi lebih rendah, direct channel memberikan hotel akses lebih besar terhadap customer relationship, CRM, repeat booking, dan peluang meningkatkan customer lifetime value.

 

Penutup

Biaya akuisisi booking merupakan bagian penting dari economics distribusi hotel.

Hotel dapat mencatat revenue tinggi tetapi menghasilkan contribution yang lebih rendah jika sebagian besar booking diperoleh melalui channel dengan acquisition cost tinggi, discount agresif, atau commission besar.

Karena itu, revenue management perlu bergerak dari sekadar melihat:

Room Revenue → ADR → Occupancy

menuju:

Gross Revenue → Acquisition Cost → Net Revenue → Contribution → Profitability.

Perubahan cara membaca data ini membantu hotel menentukan kapan OTA layak digunakan, kapan direct booking harus diperkuat, dan kapan sebuah promosi justru mengurangi economic value.

Pada akhirnya, booking yang paling berharga bukan selalu booking dengan ADR tertinggi.

Booking yang paling berharga adalah booking yang memberikan net contribution terbaik setelah seluruh biaya untuk mendapatkannya diperhitungkan.

 

Bagikan Artikel

Bantu teman Anda temukan insight ini